//
you're reading...
Act 1, All

Free Bird


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Aku berjalan melewati halaman rumput itu, dibelakangku terdapat bangunan bertembok tebal, aku akan segera meninggalkan bangunan tersebut, langkah kakiku terasa ringan, sekalipun ada suatu perasaan seperti meninggalkan keberadaanku sendiri. Bangunan ini adalah tempat dimana aku dibesarkan, aku yang kecil, aku yang tidak diinginkan oleh kedua orang tua yang membuangku ke jalanan. Orang yang menghuni bangunan tersebut yang memungutku, kemudian merawatku, serta memperkenalkan aku pada kehidupan yang baru. Hari permulaan itu sudah berlalu sangat lama, bahkan aku sulit percaya bahwa  aku pernah dilahirkan untuk kedua kalinya di dunia ini.

Hari ini, perasaan itu datang lagi, semangat baru dan mereka mengijinkan aku pergi setelah sekian lama aku mengabdi pada mereka. Aku menghirup nafas kebebasan, dan aku dapat merasakan bagian dari diriku yang hilang. Apa yang terjadi padaku mungkin adalah hal yang paling menarik dan menjadi sebuah cerita yang ingin diketahui banyak orang, karena sebagian kebenaran yang tidak pernah dibuka, akan dibukakan.

Pikiranku segera melayang pada kehidupan penuh kebahagiaan yang sebentar lagi akan aku jalani. Aku bisa hidup sebagai manusia normal pada akhirnya. Aku dapat menikmati akhir pekan seperti orang kebanyakan, aku dapat tidur pada jam 9 malam dan terbangun pada jam 4 pagi, semua hal yang terjadwal. Ini adalah impian sederhana dari seseorang yang baru terbangun dari mimpi buruknya.

Aku merogoh saku jaketku, dan aku berusaha meyakinkan bahwa barang itu sudah tidak ada lagi di dekatku, barang yang dapat mengeluarkan api dan peluru. Aku mendengarkan sungguh-sungguh apakah suara yang memekakkan telinga itu pun sudah hilang. Ya, semua barang itu sudah tak ada lagi, semuanya normal, aku telah benar-benar dibebaskan.

Aku tersenyum sesaat, lalu aku segera melanjutkan langkah kakiku, menuju jalan panjang, menuruni perbukitan, dan meninggalkan halaman rumput tersebut. Hembusan angin sore itu sangat kencang, dan aku memperhatikan jauh kedepan pada jalan menuruni perbukitan tersebut, ada seseorang yang datang menyusul. Dari kejauhan, aku mengenali orang tersebut, pria berbadan tinggi besar sama sepertiku, namanya adalah Kurt.

Kurt adalah temanku semasa menjalankan tugas di lapangan, tugas ekseskusi yang menjadi bagian dari kerjasama kami berdua. Matanya yang tajam dan dingin tak pernah berubah dan dia sepertinya memang dilahirkan sebagai orang yang tidak memiliki jiwa. Banyak orang yang mengatakan bahwa aku dan Kurt setali tiga uang. Ketika melihatnya, aku seperti melihat bagian dari dalam diriku yang sangat gelap. Kurt sekarang telah berdiri dihadapanku, dan aku menatap iblis itu dengan tatapan teduh, “Kurt ….” sapaku.

Kurt diam sejenak, lalu membalas, ” …. mau pergi, heh?”

Aku hanya menggangguk, lalu berjalan melewati Kurt dengan perlahan, namun dia menahanku dengan tangannya, ” …. kau bodoh, kau pikir siapa dirimu? mati pun kau pasti masuk neraka, sudah lupa apa saja yang pernah kau perbuat? idiot.”

Mata Kurt benar-benar tajam menyelidikiku, aku menantangnya kali ini dengan tatapan yang tajam, ” …. aku manusia, Kurt, aku juga manusia, aku berhak mendapat hidup yang normal dan layak.”

“Omong kosong.” Kurt langsung membantah, “Kau telah dibohongi, kau selamanya adalah orang yang terlahir dalam kegelapan.”

Kata-kata itu, kata-kata yang selalu mengingatkanku pada masa-masa kelam, dan dia mengucapkannya dengan sangat datar. Namun dalam kedataran itulah, aku dapat merasakan betapa kejamnya orang tersebut. Aku tertegun, aku menundukkan kepala, lalu aku mendorong tubuhnya ke atas rumput, “Aku punya pilihan, jahanam, enyah kau!”

Kurt tersungkur di atas rumput, namun sesaat kemudian dia menyeringai dan tertawa keras, ” …. hahahahahahaha, kau ingin menjadi burung yang bebas rupanya? aku beritahu, mereka hanya akan melepaskanmu sesaat, membiarkanmu terbang jauh, namun tak lama setelah itu kau akan diburu dan mereka akan mematahkan kedua sayapmu.”

Sangat Kurt, selalu berhasil membuat aku terganggu, dan aku segera meninggalkan halaman rumput itu, mengeraskan hati.


[POST ILLUSTRATION CREDIT]

-If you enjoyed this post, please share it-


RELATED POST :

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: