//
you're reading...
Act 2, All

Past, Today, Future


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Dermaga menjelang sore, aku selalu duduk di sini melihat matahari terbenam, setiap aku memiliki waktu disela-sela tugasku di lapangan. Seperti hari-hari yang sebelumnya, semestinya aku duduk di sini sendiri, namun seorang temanku berjanji akan menemaniku sore ini. Namanya adalah Latief, dia pernah bersama-sama denganku masuk kamp konsentrasi untuk pelatihan. Sayangnya kami jarang bertugas bersama ketika kami sudah berada di lapangan. Latief seperti seseorang yang datang dari masa lalu dan sekarang datang pada hari ini melalui pintu menuju masa depan, karena dia tidak pernah berubah. Latief mengingatkanku pada hal sederhana tentang jati diri manusia, bahwa mereka semua pada dasarnya dilahirkan baik.

Latief mengetahui betul apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan apakah ingatanku tentang kehidupan adalah kenyataan. Mungkin ini terdengar lucu untuk bertanya tentang kebenaran kepada seseorang yang berasal dari tempat yang sama. Tapi ini cukup masuk akal, bahwa aku terlalu diperlakukan khusus dan sangat berbeda dengan Latief.

Aku menunggunya di dermaga itu, sembari aku menatap horizon yang membentang luas membelah langit dan air, berkilau cahaya keemasan menjelang sore. Terdengar suara kendaraan datang dari kejauhan, dan aku tahu bahwa dia sudah berada dibelakangku. Dia menyentuh pundakku, dan perlahan aku sadar dari lamunanku. “Sam ….” sapanya padaku.

Aku menoleh, lalu tersenyum. “Apa kabarmu, Sam?” tanya Latief padaku lagi.

“Seperti yang kau perhatikan, sobat. Aku baik-baik saja.” jawabku tenang.

Latief mengambil posisi duduk tepat di samping kananku, lalu mulai membangun obrolan yang menarik. Dia bertanya tentang kehidupanku yang baru, dan tentunya sedikit menyindir. Tapi itulah teman, anda tidak peduli apa pun yang dia lakukan, anda hanya akan merasa senang jika berada di dekat mereka. Banyak yang orang yang pada akhirnya kecewa terhadap teman mereka sendiri, tapi aku dan Latief belum pernah saling mengecewakan, dan kami sudah berjanji untuk saling menjaga satu sama lain, bahkan ketika kami menangis ketakutan dimarahi dan dihukum mentor di kamp konsentrasi saat kami masih kecil.


[POST ILLUSTRATION CREDIT]

-If you enjoyed this post, please share it-


RELATED POST :

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: