//
you're reading...
Act 2, All

Life and Death


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Hujan itu belum berhenti sejak tadi sore, sementara dari diluar aku merasakan udara yang sangat dingin menghembus masuk. Suasana ini tidak asing dalam kesadaranku, aku kembali pada masa itu. Aku melihat sekeliling ruangan, dan menemukan bahwa dinding di sekitar tampak lusuh, hanya diterangi lampu pijar yang kecil. Gelap dan suram. Samar-samar aku mendengar suara orang berbisik-bisik dari luar ruangan dan langkah kaki yang berderap tenang. Kaki dan tanganku diikat, dan aku sadar bahwa aku sedang disekap. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku, dan aku gugup. Aku masih mendengar suara bisik-bisik di luar, lalu beberapa saat kemudian diikuti suara kendaraan mobil jeep dari luar jendela disertai kilaukan cahaya lampu yang kukira berasal dari mobil jeep tersebut. Aku memperhatikan dengan seksama, ya, di dalam ruangan ini terdapat jendela, tapi telah ditutupi dengan papan sebagian, sehingga hanya menyisakan celah kecil saja. Rumah yang kosong dan ditinggalkan, disinilah aku sekarang.

Suara diluar semakin riuh dengan bisik-bisik, lalu aku mendengar seseorang yang beraksen latin mengatakan, “Grata, domine!”

Seseorang yang lain juga beraksen latin membalas ucapan tersebut, “Bonum opus pro vobis!” Seterusnya aku mendengar pintu yang dibuka dengan keras, dan aku duduk di sini dalam posisi terikat melihat dua sosok sedang berdiri di ambang pintu. “Tandem!” kata salah satu diantara mereka sambil melangkah ke depan, menampakkan wajahnya padaku di bawah sorotan lampu pijar. Wajah itu, wajah yang tidak asing dan semestinya aku tahu dari awal.

Ketika aku melihat dengan jelas wajah kedua pria itu, mereka langsung menghantam kepalaku dengan sebuah botol. Sangat keras hingga mataku berkunang-kunang. Aku dapat merasakan aliran darah mengucur dikepalaku dan rasanya hangat bercampur rasa sakit. Di saat seperti ini mati dalam ketakutan adalah perbuatan yang sia-sia, maka aku mencoba untuk tertawa, tertawa sekerasnya. Dan tindakan mereka selanjutnya untuk membuatku diam adalah dengan mendorongku hingga tersungkur ke lantai; namun upaya itu tidak membuatku berhenti tertawa. Aku terus tertawa.

“Shut Up!!!” bentak seorang yang lain, kali ini dalam bahasa Inggris bercampur latin, “Qui putas te sunt!?”

“Ego sum vestri bulla interfectorem!!!” Aku membalas bentakan dan seketika ucapanku tersebut membuat mereka berang. Aku mendengar suara senjata yang dikokang, sesaat setelah itu aku mendengar suara tembakan. Mereka mungkin sedang menembakiku, namun aku tidak merasakan apapun yang melukai tubuhku.

“Noli esse festinatione ….” salah satu dari mereka mencoba menghentikan tindakan temannya dengan menggeser arah pistol, dan aku diselamatkan, nyaris saja tertembak. Peluru yang meluncur tersebut meleset ke arah luar jendela.

Beberapa saat yang lalu kepalaku terasa sangat sakit, dan mereka sungguh ingin menyiksaku, maka mereka membiarkan aku di sini mati kebahisan darah atau memukuliku terus hingga tewas. Ini adalah permainan dunia kekerasan yang tidak akan pernah anda harapkan. Hidup atau mati, bisakah kita memilihnya dalam kondisi seperti ini? Kita hanya bisa berusaha bertahan hidup selama mungkin, sekalipun itu sungguh menyiksa.


[POST ILLUSTRATION CREDIT]

-If you enjoyed this post, please share it-


RELATED POST :

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: