//
you're reading...
Act 2, All

Face the Wall


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Tidak semua orang itu pemberani, seperti apa yang mereka katakan pada orang lain, serta apa yang mereka yakini bahwa mereka adalah seorang pemberani. Pemberani tidak hanya berdiam diri, mencari alasan, atau berusaha menyalahkan orang lain. Tidak ada pemberani yang lahir dari ucapannya, melainkan dari tindakannya. Menjadi pemberani, itulah yang diajarkan dengan sangat serius sewaktu kami berada di kamp konsentrasi.

Malam itu asrama kami tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal, mereka mendobrak pintu, memecahkan kaca jendela, dan menyeret kami ke ruangan tengah. Pada waktu itu usiaku masih 11 (sebelas) tahun, kami dikumpulkan untuk diculik, dan anda bisa menyebutnya sebagai penculikan anak. Tapi bukan itu sesungguhnya reaksi yang mereka harapkan dari anak-anak seperti kami, karena mereka tahu kami tidak akan menangis minta tolong ataupun ketakutan. Ini adalah pelatihan uji mental seperti biasanya, dan kami diharuskan meloloskan diri dari sergapan mereka.

Pada saat ini terdapat sebuah dinding tebal yang tidak tampak antara bertindak atau berdiam diri. Diam artinya menunggu waktu untuk dieksekusi, sementara bertindak artinya berusaha meloloskan diri. Ungkapan itu sepertinya mudah diucapkan, namun sulit untuk dipraktekkan, dan bagaimana anda bisa tetap berpikiran tenang sementara mereka sudah mulai mengacungkan senjata di depan mata anda. Bisa ditebak, anda akan sangat ketakutan. Menjadi tenang, fokus, dan hanya berpikir bahwa satu-satunya hal rasional yang perlu anda lakukan adalah meloloskan diri. Ya, meloloskan diri. Jika yang anda pikirkan hanyalah tentang resikonya, anda 99% akan berdiam diri saja di sana, atau mungkin anda sudah menyerah pada keadaan.

Pengalaman itu akan mengingat anda, bahwa kondisi di mana anda sudah benar-benar bertindak adalah saat anda terfokus pada tujuan anda dan memikirkan cara melakukannya serta mencobanya dengan segala resiko yang ada.

Kebanyakan orang mungkin tidak dapat memahami, kenapa mereka tidak pernah mengendalikan situasi, itu karena mereka melepaskan kemudi pada orang lain, dan tidak pernah berusaha merebutnya kembali. Kehidupan anda semestinya dikemudikan oleh anda sendiri.

Ketika anda merasa takut, anda akan melihat wajah anda ditembok tersebut, wajah yang ketakutan, serta menghalangi anda untuk melangkah lebih jauh, tapi seperti seorang pemberani, hancurkanlah tembok tersebut.

Pada malam itu kami berhasil meloloskan diri, karena para penculik itu tidak menyadari bahwa kami sudah menyiapkan banyak jebakan di asrama, dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk berjaga-jaga dengan sangat rapi. Persiapan mendahului keberuntungan, dan keberuntungan datang dari sikap pantang menyerah, dan sikap pantang menyerah adalah cerminan sikap para pemberani.


[POST ILLUSTRATION CREDIT]

-If you enjoyed this post, please share it-


RELATED POST :

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: