//
you're reading...
Act 2, All

Gamble


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Karpet merah itu tidak terbentang bagi orang yang paling beruntung di dunia, namun bagi orang yang paling hebat di dunia, siapapun mungkin akan datang ke kasino untuk mempertaruhkan uangnya. Tapi kali ini kita tidak akan pergi ke Las Vegas untuk menyaksikan orang berjudi. Kita akan pergi ke dalam sebuah ruangan rapat penting yang hanya akan dihadiri oleh tiga orang penting di bidang pertahanan. Mereka semuanya berkacamata dan duduk melingkari sebuah meja bundar. Dari yang paling kiri adalah Kepala Riset di sebuah Laboraterium milik intelejen; namanya adalah profesor Widarso, yang duduk di tengah adalah atasanku tidak lain adalah kepala intelejen; namanya adalah bapak Kumoro, sementara yang paling kanan adalah utusan kementrian pertahanan negara; namanya adalah bapak Sutrisno. Aku berada di dalam ruangan itu bersama mereka, sedang membicarakan sebuah kesepakatan yang akan sangat bergantung pada persetujuanku.

Seorang pria yang bertubuh besar paling kiri menatapku dengan seksama, namanya adalah profesor Widarso seperti yang kita ketahui, lalu dia berkata, “Kau sungguh mengagumkan, Sam. Kau tahu, sekarang apa yang akan kami tawarkan padamu?” Aku terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala.

Pria ditengah, yaitu bapak Kumoro ikut melanjutkan, “Kami akan menawarkan suatu pekerjaan padamu, pekerjaan yang akan menyita banyak waktumu dan tentunya pengabdianmu. Tapi kami tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu, kami perlu kesepakatan darimu terlebih dahulu.” pria yang di kanan, yaitu bapak Sutrisno menegaskan, “Ya, kesepakatan.”

Aku sedikit bingung lalu aku menanggapi, “Bagaimana kita bisa mencapai kesepakatan, jika saya sendiri belum tahu apa yang bapak-bapak tawarkan?” Mereka kemudian menoleh satu sama lain.

Profesor  Widarso meneruskan, “Informasi yang akan berikan padamu sangat sensitif, kami harus memastikan bahwa kamu tidak akan menolaknya, tapi jika kamu tetap menolaknya maka kami terpaksa menghapus ingatanmu.”

“Kuberitahu, obat penghilang ingatan itu kemungkinan bisa membuatmu gila.” Celoteh Pak Kumoro . Mereka sedikit tertawa, tapi kemudian mereka kembali serius. “Apakah kamu setuju?” tanya Pak Kumoro lagi.

Aku hanya mengangguk, dan seolah aku tak punya pilihan. Tapi sesungguhnya aku punya.

“Baiklah.” Pak Kumoro berbicara dan menatapku dengan seksama, “Badan intelegen kita sudah mulai mengembangkan suatu proyek baru untuk mendukung kinerja orang-orang kita di lapangan, proyek ini disebut ‘Multiperson’. Multiperson adalah proyek menggandakan suatu subjek menjadi dua atau lebih untuk tujuan penyamaran dan penugasan di waktu yang sama ….” Hening sejenak, lalu Pak Kumoro kembali bertanya, “Sampai di sini apakah ada pertanyaan?”

Aku terbengong. “Apakah cukup jelas?” tanya Pak Kumoro lagi.

“Sam,” sahut Pak Sutrisno tidak sabaran, “Kami ingin mengkloning tubuhmu menjadi dua atau lebih di laboraterium, sehingga kami memiliki dua atau lebih dirimu untuk ditempatkan di lokasi yang berbeda di waktu yang sama, selain itu juga akan sangat berfungsi untuk menggantikanmu di masyarakat jika kamu sedang pergi bertugas dalam jangka waktu yang lama.”

Aku terbengong. Aku masih tak percaya, lelucon apakah ini, dan aku hanya tersenyum. Namun ketiga pria itu menatapku dengan tajam, “Kami serius, sam. Ini bukan lelucon.”

Profesor Widarso ikut menjelaskan, “Kami selama sepuluh tahun belakangan sering kehilangan orang-orang terbaik kami dilapangan, itu karena mereka tidak pernah pulang setelah penugasan yang sangat penting, kemungkinan mereka dibunuh atau ditangkap. Dan kamu adalah salah satu orang terbaik kami, maka kami berani berinvestasi besar pada dirimu dalam proyek Multiperson. Apakah kamu setuju?”

Aku menatap mereka bertiga dengan rasa penasaran, lalu aku pun bicara, “Apakah hanya aku sendiri? Tidak adakah orang lain?”

“Yang ikut, maksudmu?”  tanya Pak Sutrisno dengan segera. Aku menggangguk lagi, sambil berkata, “Ya.” dan kali ini aku menatap mereka dengan tajam.

Pak Kumoro menggeser tempat duduknya lalu menghela nafas, “Ya, kamu adalah orang pertama, tapi jangan khawatir, kamu bukan kelinci percobaan, kamu adalah orang yang beruntung sebenarnya.”

Aku adalah orang yang beruntung? tanyaku dalam hati.

“Bagaimana, sam?” tanya Pak Kumoro lagi, “Apakah kamu setuju?”

Dengan perlahan, namun sepertinya berat, aku mengangguk lagi tanda persetujuan.

“GREAT!!!!” Pak Sutrisno tidak sanggup menahan emosi gembiranya, “Akan segera kami urus! Tunggulah, Sam!” katanya lagi.

“Baiklah, Sam. Terimakasih atas waktumu, sekarang kamu bisa meninggalkan ruangan ini, tapi ingatlah bahwa kamu tidak boleh membocorkan proyek ini pada siapapun, dan tentunya kamu sadar bahwa kamu terus diawasi. Hukuman bagi senior yang melanggar aturan adalah suntikan obat amnesia, kau tentu masih ingat. Maka jagalah lidahmu.” kali ini mereka seperti sedang mengancam, pesan terakhir dari Pak Kumoro sangat menggangguku.

Aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang kompleks, dan setibanya di pintu keluar dan menutupnya kembali, aku mendengar dari dalam salah satu dari mereka mengatakan sesuatu, “Ini adalah perjudian, semoga tidak akan terjadi apa-apa padanya.”


[POST ILLUSTRATION CREDIT]

-If you enjoyed this post, please share it-


RELATED POST :

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: