//
you're reading...
All, Chapter I - The Beginning

The Twins


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Pandanganku gelap untuk beberapa saat, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku yang tergeletak di atas sebuah lantai, lantai yang dingin, aku dapat merasakannya. Aku dapat menghirup bau yang tidak mengenakkan, bau yang kukenali, tapi apakah itu. Samar-samar aku mendengar hembusan angin yang sangat kencang menghantam atap seng menyebabkan bunyi yang cukup keras, tapi saat ini aku tidak dapat melihat kelangit-langit, mataku masih terpejam dan aku tidak bisa terbangun. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku, mengapa aku ada di sini. Sekilas banyangan datang dari ingatanku di dalam ruangan penuh cahaya, serta orang yang mengerumuniku, mereka semua berbaju putih. Aku ketakutan, sangat ketakutan, lalu aku dapat merasakan semacam sengatan listrik mengalir dari dalam tubuhku, membuatku menggelepar beberapa saat, dan memberikan tekanan yang sangat kuat kepada tubuh untuk membuatku terbangun. Tak lama setelah aku terbangun, aku membuka mataku lebar-lebar sambil mengusapnya.

Sepenuhnya sekarang aku dapat merasakan tubuhku bergerak, leher, tangan, dan kakiku, semuanya berfungsi. Aku memperhatikan sekeliling, aku berada di sebuah ruangan lebar dengan pencahayaan dari banyak lampu nelon yang digantung di atasnya. Tempat ini tidak asing dan bau yang tidak mengenakkan ini, tidak lain adalah bau karet dan aku sekarang berada di gudang karet, tepatnya di dalam gudang karet dengan dikelilingi banyak sekali karet mentah. Tak ada siapa pun di dalam gudang tersebut, kecuali diriku sendiri, masih kebingungan, masih bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku.

Aku berbaju putih polos lengan pendek; celanaku, celana pendek berwarna hitam, namun aku tidak memakai   sepatu atau sendal, aku tidak memakai apapun untuk melindungi kaki. Dengan tenagaku sendiri, perlahan aku berusaha berdiri, dan mencoba langkah pertama kakiku, diikuti langkah kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga aku mencapai jalan besar menuju halaman depan pabrik meninggalkan gudang tersebut. Aku tersenyum; aku dapat berjalan.

Menengadah ke atas langit, aku dapat melihat cahaya rembulan sangat terang. Angin berhembus sangat kencang ketika aku melihat rembulan mulai tertutupi awan, dan atap seng lusuh di atas salah satu bangunan pabrik tersebut masih menyebabkan suara gaduh. Disinilah aku sekarang, seperti terlantar, tidak tahu ingin pergi kemana. Aku terus berjalan dan berjalan, meninggalkan pabrik karet, dan keluar melalui pintu gerbangnya dengan mudah, karena tidak ada penjagaan, dan seolah memang dibiarkan terbuka lebar.

Aku memasuki jalan besar, dan kini aku melihat banyak kendaraan lalu lalang. Dua orang wanita yang melintas di seberang trotoar memperhatikanku dengan tatapan aneh, lalu membisiki temannya satu sama lain. Aku sedikit tertanggu dengan tingkah mereka, namun aku tidak tahu apa yang harus diperbuat, maka aku melanjutkan perjalanku. Hingga cukup jauh dari lokasi pabrik dan kedua wanita tadi, aku melihat sebuah papan bertuliskan nama seseorang, aku mengira itu adalah nama jalan. Tulisan itu kubaca dengan gagap di dalam hati, “I …. Gus …. ti ….; I …. Gus …. ti ….; Mah …. Mah …. mud ….”

“I Gusti Mahmud”.

Namanya adalah I Gusti Mahmud. Ya, aku mungkin sekarang berada di jalan I Gusti Mahmud. Aku memperhatikan sekeliling dengan seksama. Tempat ini seperti pernah disebutkan padaku, tapi aku tidak benar-benar mengingatnya. Lalu sebuah kilasan ingatan menyerangku, menyebabkan rasa sakit dikepala yang amat sangat. Aku berada di dalam ruangan penuh cahaya dan salah satu pria di dalam ruangan itu berkata, “Kita letakkan dia di sebuah gudang di jalan I Gusti Mahmud, dan kita lihat apakah dia akan kembali pulang. Ini adalah pertaruhan kita.”

Tubuhku lemas, aku tersungkur di atas trotoar, sementara orang yang lalu lalang memperhatikan tingkah anehku. Aku harus pulang, aku tahu kemana harus pergi sekarang. Aku mengumpulkan tenaga yang tersisa, lalu kembali bangkit berdiri. Aku menghela nafas perlahan, lalu mulai berjalan lagi. Selama dua jam, ingatanku berangsur pulih, dan setelah dua jam, aku telah mengingat semuanya. Aku adalah seseorang  yang bernama Sammy, dan aku semestinya tidak berada ditempat itu. Namun ada satu bagian yang aneh dari apa yang aku alami, aku memiliki dua ingatan yang berbeda, namun keduanya seolah terjadi bersamaan. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.

Tinggal sedikit lagi, maka aku akan tiba pada tempat yang kutuju. Tempat yang sangat jelas tertanam di dalam ingatanku, dan aku dapat merasakan bahwa seseorang yang lain, di tempat yang lain, dan itu juga adalah aku; sedang menuju tempat sama. Tapi aku berada di sini dan tidak berada di sana. Ini akan menjadi hal yang gila jika benar-benar terjadi.

Dengan perasaan yang sangat rumit, aku segera melintasi jalanan kecil memasuki kawasan perumahan, dan di samping jalan tersebut terdapat gereja yang besar. Anjing menggonggong disekitar gereja dan aku mendengar dentang lonceng yang sangat keras selama 9 kali, itu menandakan bahwa sekarang sudah memasuki jam 9 malam.

Akhirnya aku tiba, setengah jam kemudian, di sebuah rumah besar yang direncanakan sebagai tempat pertemuan. Rumah tersebut berlantai dua, dengan ditumbuhi banyak pohon di halaman depannya. Pagar rumah tersebut terbuka dengan sendirinya, ketika aku berdiri di depannya, semacam pintu pagar otomatis yang dikendalikan dengan panel oleh seseorang. Suasana sangat hening, dan derit suara pintu pagar terdengar sangat jelas, ketika ia hendak menutup. Aku memasuki halaman rumah tersebut dengan perlahan, dan merasakan bahwa sekelompok orang sudah berjaga-jaga disekitar, mereka semua bersenjata, namun belum menampakkan diri. Aku berkata, “Keluarlah, ini aku Sammy!”

‘plok … plok … plok ….’ aku mendengar suara tepuk tangan, dan Pak Kumoro muncul diantara bilik rumah, “Sungguh mengagumkan, Sam. Lihatlah apa yang telah kita ciptakan.”

Pak Kumoro yang bertubuh jangkung dengan penampilan khasnya, yaitu selalu memakai setelah jas berwarna hitam, tersenyum padaku. Wajahnya yang tegas disinari cahaya lampu dari atas langit-langit di depan pintu rumah, serta sorot mata yang tajam tanpa mengenakan kacamata, menampilkan sosok yang lain dari dalam dirinya, tidak lagi tampak sangat tua seperti yang aku kenal. Aku menangkap bahwa reaksinya itu adalah tanggapan padaku, aku tersenyum balik padanya, “Kita berhasil, Pak.” kataku lagi.

“Aku tidak memberi tanggapan padamu, nak” Sela Pak Kumoro, “Aku memberi tanggapan pada seseorang yang ada dibelakangmu.”

Ketakutanku kini menjadi kenyataan.

Dengan gerakan lambat aku menoleh kebelakang, dan mataku terbelalak seketika melihat diriku sendiri sedang berdiri menatapi diriku sendiri. Itulah aku, kembaranku. Aku yang memiliki potongan rambut pendek, wajah yang tenang, serta sorot mata yang teduh, diperindah dengan hidung yang sedikit mancung. Tidak salah lagi, itu adalah aku.

Aku mendekati diriku sendiri. Aku menyentuh wajahnya, lalu aku bertanya, “Kaukah itu Sammy?”

“Ya, aku Sammy” jawabnya padaku.

Aku menatapnya lagi dengan seksama, lalu menurunkan tanganku dari wajahnya. Tak beberapa lama kemudian, aku segera menggelengkan kepala, berusaha membantah, “Tidak, aku juga adalah Sammy, aku bukan Sammy palsu. kamu pasti adalah Sammy palsu. Kamu memerlukan aku untuk berada di kehidupan ini!”

Aku seperti bayangan; mereka yang telah membuatku seperti bayangan. Mereka melakukannya dengan sempurna, dan apa yang mereka lakukan ternyata sudah sejauh ini, hingga mereka sanggup melawan hukum alam. Mereka berhasil 100% menggandakan diriku, dan Sammy yang sekarang aku perhatikan hanya tersenyum padaku. Oh tidak, aku sedang memperhatikan diriku sendiri sedang tersenyum padaku.

“Kamu bukan yang asli,” tunjuk Pak Kumoro padaku, “Dia yang asli,” tunjuk Pak Kumoro pada Sammy.

Aku telah mendengarnya sendiri. Aku terdiam, wajahku berubah pucat. Ini benar adalah kegilaan. Malam itu aku tidak sanggup beranjak dari tempat dimana aku berdiri, di halaman rumah tersebut.

Aku shock berat.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

ExistenceOne

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

One thought on “The Twins

  1. Untuk pendahuluan “The Twins” tidak ada malasah, semuanya alur, penokohan, latar, sudut pandang, sudah oke. Bahasa nya pun mudah dimengerti. ini Saja dari saya (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 12:33 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: