//
you're reading...
All, Chapter I - The Beginning

Existence


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Aku berdiri terpaku ditempat itu, tempat di mana aku dibangunkan dari mimpiku, dan kenyataan menyergapku seperti bahwa aku selama ini sedang bermimpi. Ingatan di kepalaku, orang yang pernah aku jumpai, janji dan pengingkaran yang pernah aku lakukan, serta keberadaanku, bukanlah milikku lagi. Pagi menjelang dan aku dapat merasakan udara yang sangat dingin. Ini adalah hari yang baru dan beberapa jam yang lalu aku melihat diriku sendiri telah menolak keberadaanku. Aku tak pernah ada, sekalipun aku ada. Aku seperti sebuah bayangan dari kehidupan orang lain.

Ilmu alam menjelaskan bahwa langit tidak pernah berubah warna, ia selalu tanpa warna, namun karena kehidupan di bumi, kita dapat melihatnya seperti berubah warna, dan kita mengenalinya sebagai waktu. Waktu yang kita habiskan, waktu yang kita miliki, serta waktu yang kita pahami sebagai kehidupan, membentuk keberadaan diri kita sendiri. Tapi aku seperti melewati kehidupan ini tanpa ada waktu sebelumnya, dan aku baru saja menghabiskan beberapa jam dari sisa kehidupanku yang baru. Kehidupan dengan satu-satunya ingatan yang asli dari dalam diriku, bahwa aku berjalan dari sebuah pabrik karet menuju halaman depan rumah ini dengan penuh kebingungan.

Aku melihat ke atas langit, dan kuperhatikan awan mendung datang menutupi langit. Hari itu, hari yang tak akan pernah aku lupakan. Dentang lonceng gereja berbunyi, samar-samar dari kejauhan, kali ini berbunyi sebanyak 6 kali, pertanda jam 6 pagi sudah tiba. Aku berdiri di sana, terdiam, sudah hampir 8 jam, namun aku belum menemukan kesadaranku yang rasional. Hanya seketika angin menghembus kencang, menyebabkan debu dan dedaunan di sekitar halaman tersebut menerpa tubuhku. Aku rasanya ingin berlari, berlari sekencangnya, namun tubuhku seolah terpaku di sana, tak dapat bergerak.

Disekitar perumahan aku masih melihat beberapa orang terus mengawasiku, mereka menjaga jarak dari tempat di mana aku berdiri. Aku adalah makhluk aneh, begitu mungkin yang mereka pikirkan. Aku adalah manusia dengan penyakit kejiwaan, begitu juga mungkin yang mereka waspadai, dan aku bisa melakukan apa saja dalam keadaan irrasional ini, termasuk menyerang mereka untuk melampiaskan kemarahanku.

Dari lantai atas rumah besar tersebut, terdapat jendela yang sangat besar, ditutupi dengan gorden berwarna putih dari dalam rumah. Aku dapat melihat ada seseorang yang sedang mengawasiku dari balik gorden jendela tersebut. Orang tersebut aku kenali raut wajahnya, namun tidak cukup jelas untuk diamati. Orang tersebut menatapku dengan perasaan cemas, dan rasa iba yang sungguh terpancar dari sorot matanya, sekalipun tidak terkatakan.

Apa yang sesungguhnya sangat menakuti diri kita? bukankah setiap orang memiliki ketakutan yang berbeda? Dan pada saat ini hal yang paling aku takutkan hanyalah diriku sendiri. Kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu tidak dapat aku batalkan, itulah aturannya, namun aku menanggung sebuah kesalahan yang bahkan aku tidak pernah melakukannya. Perasaan bersalah itu sangat berlawan dengan derajat moral diriku yang masih tinggi dan masih bersih dari segala perbuatan jahat. Jika orang menyebutnya sebagai suatu kegilaan, maka ini  benar adalah kegilaan.

Aku merupakan gambaran kehidupan dari orang yang suka mengingkari keberadaan dirinya sendiri sebagai manusia. Mereka adalah makhluk berjiwa dan memiliki kepribadian yang sifatnya tunggal dan tidak dapat digandakan dalam raga yang berbeda. Namun jika itu terjadi, maka hanya akan terjadi suatu pertentangan dan pengingkaran diri yang sangat hebat. Aku adalah aku. Aku adalah satu-satunya Sammy yang ada di atas bumi dan telah hidup selama 17 tahun. Itulah yang semestinya aku katakan pada diriku, namun ketika aku mengingat ucapan Pak Kumoro beberapa jam yang lalu, maka aku melihat dan mendengar bahwa diriku sendiri mengatakan, “Tidak, kau bukanlah Sammy, dialah Sammy. Kau hanyalah bayangan dari dirinya.”

Awan mendung di atas langit sudah berkumpul, membuat cuaca menjadi gelap gulita disertai angin yang kencang. Tuhan akan segera menurunkan hujan di atas tanah ini, namun aku tetap berdiri di tempat itu; berharap aku dapat menemukan diriku sendiri dan pergi dari tempat itu menembus ragaku dan kembali merasuki raga Sammy yang asli, karena jiwa ini adalah miliknya.

Rintik-rintik hujan membasahi tubuhku, dimulai dengan gerimis, kemudian diikuti hujan yang sangat lebat beberapa saat kemudian. Orang yang mengawasiku di halaman berlarian mencari tempat berteduh, namun aku sama sekali tidak peduli, aku tetap berada di sana, berdiri, kali ini menengadah ke langit. Air hujan menetes di atas pelupuk mataku, rasanya sakit, namun cukup untuk membuatku melampiaskan amarahku.

Aku berteriak, “Arggggh!!!!”

Beberapa orang yang berada di halaman, mengangkat senjatanya, di tempat berteduh, mereka masih mengawasiku. Pria yang muncul dari balik gorden, kini tak terlihat lagi, dia telah pergi dari tempat itu. Lalu aku mendengar suara berisik dari dalam rumah, suara bentakan dan amarah diiringi dengan suara hujan yang lebat. Petir mulai menyambar, dan suaranya menggemuruh di tengah kekalutan diriku.

Dari luar pagar halaman rumah, aku mendengar sebuah mobil kijang datang dari arah kanan sudut jalan. Suara teriakanku memancing perhatian penduduk sekitar, mereka menyaksikan dari berbagai sudut rumah, namun nyali mereka sedikit ciut ketika melihat bahwa aku diawasi oleh banyak pria bersenjata. Aku memperhatikan mereka di samping kiri dan kanan pagar rumah yang besar itu.

Pintu pagar halaman rumah dibelakangku dibuka, seseorang datang memasuki halaman rumah, langkah kakinya berciplak di tengah genangan air yang rendah. Seseorang  itu berjas hujan hitam, dan memakai payung hitam. Dia menghampiriku dengan perlahan. Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, lalu aku menatap matanya yang bening, dia adalah seorang perempuan, dan aku merasa mengenalnya. Hidungnya yang kecil, serta bulu mata yang tipis, mengingatkanku pada masa-masa yang lalu. Dengan cepat, aku menghampirinya lebih dekat. Ya, aku mengenalnya, dia adalah Ernie, Ernie yang manis, temanku selama di kamp konsentrasi.

“Sam …. ” sapanya padaku dengan lembut.

Mendengar sapaannya, aku merasa seperti tersengat dan menemukan kesadaranku kembali, karena untuk pertama kalinya keberadaanku di kehidupan ini, dianggap. Ernie menatapku dengan rasa iba, sama seperti pria yang muncul dibalik gorden beberapa saat yang lalu.

“Mari kita pulang ….” kata Ernie lagi padaku, “Kita harus pulang. Ikutlah denganku.”

Ucapan Ernie memang sangat sederhana, namun aku merasa seperti dihidupkan kembali. Apa yang aku butuhkan saat ini mungkin adalah pengakuan, bahwa aku adalah manusia seutuhnya, dan sesosok pribadi yang pernah hidup. Ernie tersenyum padaku, senyum yang manis, dan aku berusaha tersenyum, sekalipun tubuhku sudah menggigil terkena air hujan menyebabkan sekujur tubuhku kejang-kejang.

Aku ingin melangkah mendekati Ernie, namun tiba-tiba terdengar suara pintu mendobrak dari depan pintu rumah. “SAM!!!!” teriak seseorang padaku, dan setelah aku perhatikan, itu adalah Pak Kumoro, sedang bergulat dengan seseorang yang lain, yang wajahnya aku kenali sebagai seseorang yang muncul dibalik gorden putih tadi. Mereka sedang memperebutkan senjata, dan mereka berguling di atas serambi depan rumah. Aksi ini hanya menjadi tontonan, sementara banyak orang yang bersenjata terdiam, mereka tampak kebingungan.

Pak Kumoro menoleh ke arah aku dan Ernie, sambil masih bergulat, lalu berbicara dengan suara lantang, “Ernie!!!! bawa Sammy pergi dari sini, cepat!!!! Profesor Widarso ingin membunuhnya!”

“Diam kau, bajingan! Tidakkah kau lihat apa yang telah kita lakukan,” Profesor Widarso, pria yang tadi kuperhatikan muncul dibalik gorden itu; membela diri, namun suaranya agak tercekik karena ditindih oleh Pak Kumoro, “Menggandakan manusia adalah sebuah kesalahan, kita tidak bisa membiarkannya tetap hidup, ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental Sammy!”

“Kau yang diam! Bukankah kau yang menciptakannya, bajingan!” Lagi, Pak Kumoro berbicara dengan suara lantang, sambil bersusah payah menindih Profesor Widarso agar tetap pada posisi baringnya.

“Ini adalah kesalahanku ….” Ucap Profesor Widarso, kali ini memelankan suaranya, “Kita telah melawan hukum alam …. “

Tak beberapa lama kemudian aksi gulat antara Profesor Widarso dan Pak Kumoro sedikit memelan; karena sepertinya mereka berdua sudah kehabisan tenaga. Namun ternyata hanya Pak Kumoro yang kehabisan tenaga. Tanpa ada kelengahan sedikitpun, kesempatan ini diambil Profesor Widarso untuk mendorong Pak Kumoro menjauh dari dirinya. Pak Kumoro terjungkal ke samping kanan serambi rumah; terjatuh diantara pot-pot tanaman. Profesor Widarso bangkit berdiri dan sekarang dalam keadaan yang sangat bebas, dan dengan gesit, ia mengambil senjata yang terjatuh di dekatnya, dan menembaknya ke arahku.

TARR!!!! TAR!!!!!

“Arrgggh!!!!” Ernie berteriak histeris.

Aku melihat percikan api itu sekilas; hanya sekilas, detik berikutnya aku melihat tubuhku berlumuran darah. Profesor Widarso menembak tepat di dadaku. Keseimbangan tubuhku hilang, aku segera tersungkur; jatuh di atas genangan air, tak sadarkan diri.

Semua tampak gelap.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

The TwinsOne

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

One thought on “Existence

  1. Untuk bagian ini (“Existence”), secara spesifik dari pandangan saya, alur cerita sudah bagus, menarik, konflik pun sudah mulai tampak. Hanya saja pada paragraf awal (2-3 paragraf) mungkin alur nya bisa di pangkas sedikit. Dari hemat saya, di awal cerita hanya pengantar jadi tidak perlu terlalu panjang, nanti pembaca malah bosan. Cukup sebagai pengantar untuk masuk ke dalam alur berikutnya. (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 12:40 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: