//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Salvatore


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Pagi cerah di belahan Indonesia bagian barat, matahari mulai terbit dari sebelah timur, setelah beberapa hari sebelumnya tertutupi awan mendung, diguyur hujan. Hujan terus mengguyur kota ini beberapa hari yang lalu. Bulan November adalah bulan dengan curah hujan yang sangat tinggi. Jalanan yang basah, serta parit-parit yang terisi penuh dengan air, menandakan bahwa musim hujan telah tiba.

Aku telah sadar sepenuhnya, setelah beberapa insiden yang menimpaku, dan disinilah aku sekarang, ditemani Pak Kumoro, duduk di dalam mobil. Mobil sedan berwarna hitam ini di bawa dari dalam garasi rumah sakit asrama. Keadaannya masih baru, karena sangat jarang dipakai untuk dinas. Pak Kumoro sebenarnya ingin memakai mobilnya sendiri, namun karena masalah keamanan, maka mobil tersebut terpaksa tidak dipakai untuk mengantarku.

Sambil bersandar di dudukan mobil, aku membaca sebuah brosur yang ada di tanganku, brosur ini berisi tentang penjelasan Sekolah Menengah Atas yang aku masuki beberapa bulan yang lalu. Tidak ada yang aneh, bahwa usiaku 17 tahun dan apa yang semestinya aku lakukan pada usiaku ini sekarang adalah bersekolah. Ya, bersekolah, dan mereka mendaftarkan diriku ke Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun pertama. Sedikit lucu, bahwa ternyata seorang agen rahasia juga memerlukan kehidupan yang normal. Sempat mengalihkan perhatikanku dari brosur, aku memperhatikan penampilanku dari kaca spion, dengan seragam yang aku kenakan. Aku masih merasa sedikit geli melihatnya.

Pak Kumoro mengendarai mobil, sementara aku hanya duduk di sampingya, memperhatikan jalanan yang dipenuhi dengan kehidupan orang-orang normal, mereka yang menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari. Aku pernah berharap untuk menjadi seperti mereka, hidup dengan kejujuran di hati mereka, dan hidup dengan pemikiran yang sederhana. Namun mungkin mereka juga pernah berharap untuk menjalani kehidupan sepertiku, menjadi orang yang penuh sifat misterius dan kebohongan. Sesuatu yang baru bisa dipahami jika kami saling bertukar posisi.

Ketika mobil yang dikendarai Pak Kumoro memasuki sebuah gang sempit, perjalanan pun dihentikan. Mobil kami terparkir di sebuah sudut gang yang sepi dan sekilas aku melihat beberapa orang sedang mengintai keberadaan kami dari kejauhan. Mereka bersembunyi dimana saja, asalkan tidak mencurigakan. Mereka sebenarnya adalah pengawasku yang membuntutiku dari rumah sakit asrama. Beberapa pohon akasia tumbuh di sekitar gang yang sempit, dan sisa dedaunannya yang gugur di musim kemarau menutupi jalanan di tepi gang tersebut. Tempat perhentian yang bagus, menurutku, karena sedikit sunyi, namun sebagai resikonya aku diharuskan berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju sekolah.

Pak Kumoro mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Ia menyerahkan sebuah alat seperti telepon genggam yang sangat kecil kepadaku. “Ini adalah alat komunikasi.” katanya. Aku menerima alat komunikasi itu, lalu mengamatinya dengan rasa penasaran. “Alat itu berguna untuk menghubungiku, hanya dalam keadaan darurat, gunakan sebijak mungkin.” katanya lagi.

Selanjutnya Pak Kumoro mengeluarkan sesuatu yang lain dari saku jaketnya, kali ini seperti sebuah obat, karena berbentuk kapsul. Pak Kumoro menyerahkannya padaku, dan menyuruhku untuk meminumnya. “Ini adalah obat untuk melindungimu dari berbagai macam ancaman, minumlah sekarang.” Pak Kumoro menyerahkan sebotol air minum, dan aku segera meminumnya. Aku mendengar bunyi klik setelah aku berhasil meminumnya. Ternyata Pak Kumoro sedang menyalakan GPS tepat setelah aku selesai meminum obat tersebut.

“Obat yang barusan kamu minum adalah GPS, ukurannya sangat kecil, dimasukkan dalam kapsul, untuk disimpan dalam perutmu,” jelas Pak Kumoro, “Sekarang kamu akan selalu memerlukan GPS.”

Dengan alat yang digunakan itu, mereka dapat memantau keberadaanku selama 24 jam, namun aku menunggu saatnya buang air besar, untuk membuang alat GPS tersebut dari dalam tubuhku. Pak Kumoro menatapku, seolah tahu apa yang aku pikirkan.

“Menaruh GPS dalam perut hanya dilakukan bagi pemula, selanjutnya kami akan memasangkannya di belakang leher kepalamu.” Pak Kumoro berbicara sambil tersenyum.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, saatnya sekarang aku berangkat ke sekolah. Pak Kumoro membuka kunci pintu mobil dari dalam, kemudian membiarkanku membuka pintunya sendiri. “Pergilah, nak. Sudah  waktunya. Orang lain mungkin yang akan menjemputmu, sepulang sekolah, di tempat ini.”

Aku berjalan meninggalkan mobil, namun Pak Kumoro masih mengatakan sesuatu sebelum aku berjalan cukup jauh, “Dan Ingat, namamu adalah Salvatore bukan Sammy, berusia 15 tahun.”

Aku menggangguk, “Salvatore, usia 15 tahun.” sebutku perlahan.

Ingatanku tentang kehidupan sekolah masih bertahan, aku sudah menghabiskan beberapa bulan di sekolahan tersebut. Namun ketika menyadari bahwa selama beberapa bulan tersebut aku tidak pernah berada di sana, melainkan Sammy yang merupakan genetik asli dari jiwa dan ragaku; membuatku merasa aneh. Sammy diberi nama samaran Salvatore untuk menjadi seorang siswa menengah atas, lahir pada tahun 1990, berusia 15 tahun. Sekarang tugasku adalah menjalani kehidupan yang normal sebagai Salvatore. Tugas ini cukup mudah, selain karena aku merasa sebagai Salvatore juga, bukan begitu?

Agak jauh setelah aku berjalan, melewati rerimbunan pohon akasia di sebuah sudut gang, lagi-lagi aku mendengar suara Pak Kumoro berbicara; kali ini berasal dari perangkat kecil yang ditempelkan di dalam telingaku beberapa hari yang lalu di rumah sakit asrama. Alat ini sedikit menyakitkan telinga, karena akan mendesing ketika ada panggilan masuk. Selain itu di dalam mulutku pun ditempel perangkat kecil lainnya untuk berbicara.

“Hi, Salvatore.” sapanya padaku. Aku menoleh kebelakang dan mendapatkan bahwa mobil Pak Kumoro sudah tak berada dalam radius pandanganku. “Kami memperhatikanmu dari atas langit, Sal.” katanya lagi.

Merasa tidak nyaman, aku berhenti sejenak, menarik nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Aku menoleh ke atas langit yang biru, mengacungkan jari tengah ku ke sana, sambil berharap satelit GPS itu akan rusak atau terbakar untuk menghilangkan keberadaanku dari pantauan mereka.

“Hahahaha ….” Pak Kumoro hanya tertawa.

Ini adalah sebuah lelucon.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

One thought on “Salvatore

  1. Kenapa Bung Deni, latar cerita nya dari 1 bagian ke bagian lainnya seperti melompat begitu jauh, misalkan pada bagian “The Twins” berada di Jalan Situt Machmud tetapi latar berikutnya sudah jauh ke Rusia tanpa ada penjelas. Lalu dari Rusia langsung ke Indonesia lagi. Kalau di gabung menjadi 1 Novel fiksi mungkin bisa di tambah kenapa latar nya bisa berpindah-pindah. (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 12:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: