//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Surrounded


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Jam 10 pagi waktu Moscow, jam 2 siang waktu Indonesia bagian barat.

Berada di negeri asing membuatku merasa kesepian. Aku datang dari negara dengan suhu yang sangat panas, kulitku berwarna kecoklatan, sangat berbeda dengan mereka yang berwarna kulit putih. Tubuhku tertutupi dengan jaket bulu tebal, berlapis-lapis, menggemukkan badanku yang tidak terlalu gemuk. Orang dijalanan tidak terlalu memperhatikanku, mungkin karena aku tidak seperti orang asing; hanya perasaanku saja.

Berhenti sejenak di sebuah perempatan jalan yang dipadati arus lalu lintas, aku menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai aksiku; berusaha menenangkan diri. Cuaca yang sangat tidak bersahabat, membuatku merasa gigil kedinginan. Aku segera berjalan menuju sebuah cafe di tepi jalan raya. Cafe tersebut sangat ramai, namun tidak semua orang bisa masuk ke dalam, hanya yang memiliki kartu keanggotaan yang dapat masuk. Tempat itu begitu eksklusif dan tertutup rapat, karena merupakan bagian dari otoritas intelejen Rusia. Apapun yang ada di dalamnya orang luar tidak akan tahu, seperti apartemen yang aku tempati di sebuah tepi jalan di Moscow, sangat rahasia. Dua orang bertubuh kekar dan seorang sniper di atas gedung yang menjulang tinggi beberapa meter dari lokasi Cafe, selalu mengawasi sekitar. Dan aku, sedikit gugup, menghampiri dua penjaga itu sambil menyerahkan kartu keanggotaan palsu. Aku hendak memasuki Cafe tersebut. Salah satu dari pria kekar itu memperhatikan wajah dan tubuhku, katanya, “You’re not from Europe.”

“Can you speak Russian?” Pria kekar yang kedua giliran bertanya.

Aku hanya menggeleng.

“Who is your name?” tanya pria kekar yang pertama. Wajahnya bundar, berkacamata hitam dan memiliki tato palu dileher.

“Gegortov. I’m Gegortov.” jawabku dengan nada yang biasa dan tenang.

Mereka saling berpandangan. Namun sepertinya mereka tidak percaya, “Give me your identity.” kata pria kekar yang kedua, tak jauh berbeda dari yang pertama, Ia juga bertato palu dan berkacamata. Segera aku memasukkan tanganku ke dalam sakut jaket, sepertinya hendak mengeluarkan kartu identitas, namun ternyata bukan kartu identitas yang aku keluarkan, melainkan sebuah granat. Aku melemparnya ke dalam Cafe melalui kaca jendela, namun sayangnya baru aku sadari, kaca jendela Cafe tersebut anti-peluru. Granat yang aku lempar, memantul dan jatuh di dekat bingkai jendela, di atas trotoar. Secepat kilat aku menarik senjata, berlomba dengan dua pria kekar tersebut. Aku menarik pelatuknya dan …..

TARRR!!!! TARRR!!!!

Dua peluru meluncur dari senjataku, melukai dua pria kekar tersebut. Penduduk di sekitar lokasi sempat panik dan berteriak histeris melihat insiden yang baru saja terjadi. Aku segera berlari menjauhi Cafe dan meloncat ketika instingku berjalan …..

DUARRR!!!!

Granat yang aku lempar meledak. Aku berguling sedikit setelah loncatan, dan segera berlari menjauhi lokasi. Situasi chaos. Aku mendengar peluru sniper menghantam jalan, suaranya keras, dari kejauhan. Mereka sekarang menyasarku dari atas gedung. Aku hanya terus berlari dan berlari sampai pada suatu perempatan jalan lainnya, aku menemukan bahwa segerombolan orang telah mengepungku, mereka semua bersenjata. Aku memperhatikan semua wajah mereka, dan mereka tampak kurang menyenangkan.

Salah seorang dari gerombolan itu berusaha menghentikanku dalam bahasa Rusia, “Эй, стой! Поместите свой пистолет!” Ia mengancungkan senjatanya, sedikit menghentakkan ke bawah, seperti mengisyaratkan supaya aku membuang senjata. Aku mematuhi seperti yang ‘aku duga’ diperintahkan.

“Не двигаться!” Lagi-lagi perintah berbahasa Rusia, aku sama sekali tidak mengerti. “Не двигаться!” katanya lagi.

“I can speak Russian.” kataku, sambil mengangkat kedua tanganku, berharap salah satu dari mereka ada yang bisa berbahasa Inggris, “I’m surrender.”

“Hey, you! I can speak English. Now you don’t move, rise your hand!” Salah satu dari mereka sepertinya mengerti, dan suaranya aku kenal. Aku melihat dengan seksama bahwa pembicara itu tak lain adalah Aleksei. “Follow our command, and we will not shoot you, understand!?”

“Yes, I understand!” jawabku sedikit berteriak.

“Now you’re down!” aku segera menunduk. “Put your hand on your head!” aku meletakkan tanganku di atas kepala. “Now, we move on. If you try to run, We will kill you!”

Dua orang dari gerombolan itu berjalan ke arahku, menangkap kedua tanganku, lalu memborgolnya. Senjata tidak terlepas dari genggaman tangan mereka. Dalam keadaan seperti ini, ada kemungkinan aku akan melawan, namun aku tidak akan melawan. Aku memang sengaja membiarkan diri tertangkap, dan sejak semula itulah rencananya, berbeda dengan yang diinstruksikan di Moscow. Aleksei memperhatikanku dengan raut wajah kecewa, mungkin dia mengira aku telah gagal, namun dia tidak mengetahui beberapa bagian terpenting dari tugasku di Rusia yang tidak diberitahukan kepadanya. “You’re surrounded. You will not go home anymore.” katanya halus, hampir seperti berbisik.

Mendengar ucapannya, aku hanya diam. Detik berikutnya aku merasakan bahwa lututku disetrum. Tubuhku menggelepar hebat, dan selanjutnya aku pingsan, tak sadarkan diri.

Lagi-lagi semua tampak gelap.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

3 thoughts on “Surrounded

  1. Mantap bos, membuat penasaran kelanjutan ceritanya .. ditunggu ….

    Posted by Bastian | November 13, 2012, 12:53 am
  2. Tambahan bos, mungkin bisa di tambahkan mengapa latarnya bisa ke Rusia lagi. Tadi pada bagian “Salvatore” malah di sebuah SMA. mungkin di tambah misalnya Sami 1 di Indonesia sedangkan Sami yang 1 nya bertugas sebagai agen dan bertugas di Rusia. Terima kasih.

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: