//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

School Time


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Bagi sebagian orang masa-masa disekolah adalah masa-masa yang paling membosankan, aku duduk di atas bangku kelas dengan mata yang mengantuk, aku menguap sesekali, sambil memperhatikan jam pelajaran yang tersisa 15 menit lagi. Matahari sangat menyengat pada siang hari ini mengakibatkan tubuhku mengalami dehidrasi, namun sepertinya tidak hanya aku sendiri yang mengalami dehidrasi, teman sebangkuku yang bernama Fransaves mungkin mengalami hal yang sama. Fransaves adalah teman yang baik sesungguhnya, kulitnya berwarna hitam, matanya teduh, sangat kontras dengan bentuk wajah yang sangat tegas, ciri khas orang dengan pendirian yang kuat.

Aku membalik-balikkan halaman dibukuku yang masih kosong, aku sama sekali tidak mencatat dan memperhatikan. Terhadap apa yang telah aku alami, rasanya mata pelajaran kimia tidak dapat menjelaskannya dengan baik, begitu juga dengan mata pelajaran eksak lainnya seperti Fisika, Biologi dan Matematika. Secara kasar aku ingin mengatakan bahwa semua pembelajaran itu seperti omong kosong, selain karena aku sama sekali tidak tertarik pada ilmu eksak.

Aku hanya terus menguap, menutup mulut dengan kedua tanganku. Tabel unsur kimia hanya kujadikan alat mengipas badan. Di depanku duduk seorang anak nakal, namanya Bernadus, biasa dipanggil Tri. Tri sama sekali tidak tertarik dengan semua mata pelajaran di sekolah. Dia dua kali lipat lebih extrem daripadaku. Dia tidak hanya acuh terhadap penjelasan guru, namun juga tertidur di kelas. Dalam imajinasiku sekarang, aku ingin sekali menyalahkan menteri pendidikan, menghajarnya hingga babak belur, serta membuatnya desersi, karena menyengsarakan anak murid seperti diriku dan Tri. Namun jika divoting, bukan hanya aku dan Tri yang sengsara, hampir semua siswa seperti dilanda stress.

Kesesakanku berhenti dalam sekejap, bel yang aku tunggu-tunggu akhirnya berbunyi, dan segera aku meloncat dari bangku, mengemaskan buku-buku-ku di atas meja. Aku hampir melupakan ritual pulang sekolah, yaitu berdoa. Kelas selalu diakhiri dengan doa di negara ini, dan aku mendoakan semoga menteri pendidikan sekarang cepat dipecat. Amin!

Perjalan pulang dari sekolah ke asrama sedikit memerlukan pengorbanan, aku harus berjalan kaki di bawah terik sinar matahari menuju sebuah gang sempit, dimana mobil penjemput sedang menungguku. Aku segera berjalan, tidak memperdulikan siapapun, meninggalkan halaman sekolah, keluar dari gerbang, menuju jalan raya. Memasuki gang-gang sempit aku menyusup dengan cepat, melewati perumahan warga, dan tak terasa aku sudah mencapai tempat dimana seharusnya aku dijemput. Ada sebuah mobil di sana, berwarna hitam, aku hanya melihat orang lain berada di dalam mobil, aku tidak mengenalinya, namun Ia segera memperkenalkan diri melalui speaker kecil yang tertempel ditelingaku, “Selamat siang, Sal. Aku adalah Toni, orang yang akan selalu menjemputmu mulai dari hari ini hingga tiga tahun mendatang.”

Ucapan yang begitu meyakinkan, tiga tahun ingin mengawalku? Apakah begitu mudah? Aku tak menjawab apapun, sebaliknya hanya tersenyum dan berjalan mendekatinya. Tiba di depan pintu mobil, aku membalas sapaannya, “Selamat siang juga, Toni. Senang berkenalan denganmu.” Pintu mobil terbuka, aku segera masuk ke dalam.

Di dalam mobil aku melepas lelah, panasnya hari sudah sangat menguras tenagaku, wajahku merah padam karena kenapasan berjemur. Toni mengangguk, menatapku dari balik kaca spion depan, segera menyalakan mesin mobil, lalu mengendarainya pergi dari gang sempit tersebut. Aku dapat merasakan bahwa duniaku akan segera berubah beberapa saat lagi, diawali dengan ucapan Toni yang membuatku yakin bahwa tak ada jam tidur siang, “Kita akan segera ke distrik utara, ada tugas yang menunggumu.”

Aku hanya diam, tubuhku lemas tersandar di dudukan mobil, tak banyak protes lagi.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

One thought on “School Time

  1. Di sini berkisah masa lalu atau masa sekarang bos? kalo berkisah masa lalu berarti alur mundur untuk beberapa waktu ke belakang. Cukup berkisah masa lalu nya sebagai siswa saja jadi tidak perlu boros kata-kata. Cuman ini lah yang membuat menarik kisah yang tiada henti menyimpan rahasia di depannya. Fiksi yang anda tulis menarik karena apapun bisa terjadi pada bagian berikutnya. Ini sulit untuk ditebak, sangat membuat penasaran. (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: