//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Betrayal – Scene 1


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Seberapa lama kita bisa mempercayai orang yang kita percayai? Jawabannya adalah relatif.

Aku merasakan tubuhku lemas beberapa saat, dan ketika aku terbangun, aku sudah berada di dalam sebuah ruangan yang redup. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu yang menggantung di atas meja. Sunyi dan suram. Aku dapat mencium bau amis dari kursi yang aku duduki, sangat tidak mengenakkan. Kedua tanganku dibelenggu dengan borgol di belakang kursi. Sempat kuhentak beberapa kali, namun ternyata belenggu itu terlalu kuat, hanya membuat tanganku tergores dan terluka oleh kerasnya besi. Aku melihat bayangan berada di balik kegelapan, sesosok yang berdiri di depanku, ia memperhatikanku. Aku menyadarinya karena aku dapat merasakan tarikan nafasnya.

“Good morning, Sam …..” sapa orang itu padaku. Ia keluar dari kegelapan, menampakkan dirinya padaku. “How’re you today?”

Aku tidak menjawab, aku hanya diam, namun orang itu tampak tidak senang, Ia langsung menghantam meja dengan sangat keras. “ANSWER ME!!!!”

Tidak cukup dengan bentakan, orang tersebut mulai melukaiku secara fisik, dimulai dengan pukulan di wajah, sampai hantaman tinju diperut, “So, you can’t speak, huh?” tanya pria itu lagi, “No, You can. I will give u  a chance to answer me ….”

Wajah pria tersebut berbentuk lonjong, lemak ditubuhnya cukup berlebihan. Matanya bulat kuyu. Pakaian rapinya, serta jas hitam yang dikenakannya, mencirikan bahwa ia adalah seseorang yang professional. Sekilas Ia seperti pegulat yang sedang menginterogasiku dalam balutan busana yang elegan. Tentu ini bukanlah sesuatu yang aneh.

Pria tersebut tampak berusaha keras untuk menindasku, namun dengan penindasan saja tidak akan cukup membuatku bicara. Aku adalah agen khusus yang sudah dilatih dengan sangat baik. Aku segera memikirkan cara bagaimana untuk meloloskan diri. Konsentrasiku hanya tertuju pada misi selanjutnya, yaitu meloloskan diri setelah ditangkap. Apapun yang akan menimpaku, semua itu telah tersimulasi dengan baik dalam pelatihan, dan sekarang aku hanya perlu mempraktekkannya.

Aku berusaha melenturkan tanganku, selentur mungkin, lalu dengan perlahan mulai menarik tanganku dari belenggu borgol tersebut. Sedikit sakit, karena menjepit tulang. Adegan ini mungkin sangat mustahil bagi orang normal, namun sangat mungkin bagi ahli escapology. Tanpa trik, tapi teknik. Aku dapat merasakan tangan kananku sudah terlepas, namun aku belum bertindak apa-apa untuk melawan. Pria tersebut tidak sempat melihat apa yang sudah aku lakukan dibelakang kursi. Ia datang kembali dalam ancaman, lalu berniat menghantam kepalaku dengan kepalan tinjunya. Dengan sangat cepat aku meloncat menghindar, lalu mengangkat kursi yang aku duduki untuk melemparinya kemudian. Kursi itu hancur, pecah berantakan. Aku melihat darah mengalir di dahi dan hidung pria tersebut. Ia masih berdiri, lalu menatapku dengan amarah, “FUCK YOU …..!!!!”

Pria tersebut bermaksud menyerangku kembali. Namun dengan sangat gesit, aku berusaha menginjak tempurung tumitnya, lalu melakukan upper cut secepat mungkin, diikuti sebuah pukulan di batang leher. Sempat terhuyung-huyung, pria tersebut akhirnya mengeluarkan darah dari mulutnya. Detik berikutnya, ia sudah terjatuh pingsan. Belum sempat menarik nafas, dan mengambil keseimbangan yang baik, aku sudah mendengar suara ribut-ribut diluar.

Aku dengan terburu-buru mendorong pintu dari dalam ruangan tersebut. Di balik pintu terlihat sebuah koridor satu arah yang panjang, dan dari ujung koridor aku melihat puluhan orang berlari ke arahku, wajah mereka dipenuhi kemarahan. Aku berusaha menenangkan diri, menarik nafasku, lalu maju.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeChoiceBetrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

One thought on “Betrayal – Scene 1

  1. Di sini hanya bagian diksi saja yang lain sudah oke. Terdapat beberapa kata yang sulit dimengerti kaum awam misal: “ahli escapology”, “upper cut”,. Dan terdapat kata-kata yang perlu dikoreksi misal: batang leher = leher saja, tempurung tumit= tumit saja. (Bastian Arisandi)

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:16 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: