//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Choice


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Jumat, 18 November 2005″

Aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengharuskan bagaimana seorang laki-laki bersikap. Setelah aku merenungkannya, mereka mengatakan sesuatu yang benar. Pada dasarnya. Namun aku masih meragukan keteguhan hati mereka ketika mereka menghadapi kematian yang sesungguhnya. Mereka mungkin berhasil memperdaya orang lain melalui kata-kata mereka, namun bagiku mereka adalah tukang akting kelas kakap, penipu ulung, si raja pencitraan.

Kematian sepertinya adalah karib terdekatku. Berkali-kali aku melihat nyawa orang lain melayang di depan mataku. Sebagian adalah para pendosa berat, sebagian adalah tikus-tikus jalanan yang hanya menikmati bagian terkecil dari surga kejahatan. Melihat orang lain mati terbunuh secara langsung, sangat berbeda dengan melihat orang lain mati karena penyakit, ataupun karena penuaan. Tak ada satupun pengalaman yang sangat berkesan selain menyaksikan kematian orang lain. Malaikat maut selalu datang tanpa diundang, karena akulah yang sering mereka sebut tamu tak diundang, yaitu sang malaikat maut. Mereka dapat melihat kebengisan dan kesadisan dari sorot mataku, sebuah mesin yang sempurna untuk menghabisi banyak orang dalam sekejap.

Hal itu akan terjadi lagi pada malam hari ini, aku akan terjun ke dalam kawah maut itu sendirian, menghabisi para kriminal yang membuat sampah di negara ini semakin banyak. Kekerasan tidak akan pernah diajarkan dalam konteks kebenaran manapun. Namun yang aku lakukan bukanlah atas kehendak dari dalam jiwaku sesungguhnya. Manusia punya hati nurani, hati nurani yang bisa diabaikan oleh kepentingan golongan, rasa hormat, dan kesetiaan buta. Aku melakukan ini semua demi membayar rasa berhutang budiku terhadap organisasi.

Yang perlu diingat bahwa anak-anak tetaplah anak-anak. Walau bagaimanapun, kita tidak bisa mengharapkan kedewasaan dini dari dalam diri mereka ketika bersikap. Itu seperti angan-angan. Aku menuliskan cerita ini pada usiaku 17 tahun. Percayalah aku masih 17 tahun pada saat aku menuliskan kisah ini. Inilah gambaran asli dari sudut pandangku ketika aku masih sangat muda. Waktu mungkin akan merubahku, merubah sudut pandangku, namun tidak untuk sekarang.

——————————————————————————————————————————————————————————————–
Ya, benar, aku sedang membacanya sekarang; dalam buku harian yang aku tulis hampir 7 tahun yang lalu.

Hal ini membuatku semakin percaya, bahwa kehidupan sesungguhnya adalah pilihan. Masa depan itu samar-samar dan kita terkadang terlalu yakin dengan masa depan itu, sehingga menyebabkan kita memiliki pemikiran yang sempit di masa lalu. Aku sekarang hidup dalam kedamaian, duduk di serambi rumahku yang sunyi, menatap hujan, sambil aku mengingat-ngingat masa lalu itu dalam lembaran buku harian yang pernah aku tulis.

Dan sejak semula semua itu hanya masalah PILIHAN.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1Betrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

5 thoughts on “Choice

  1. hmmmmmmmmmm……….. 😕

    Posted by yisha | November 20, 2012, 1:22 pm
  2. Untuk ini No comment….. (Bastian Arisandi)

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:18 am
  3. pengalaman pribadi kah ini mas?

    Posted by danirachmat | February 10, 2013, 6:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: