//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Betrayal – Scene 2


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Sekaranglah saatnya, aku mengepalkan tinjuku, lalu berlari di sepanjang koridor yang panjang menyusul orang-orang yang ingin menangkapku. Mereka sempat berusaha menghentikanku dengan teriakan, namun aku sama sekali tidak mengerti bahasa Rusia. Apapun yang mereka katakan sama sekali tidak akan menggangguku. Mereka mengacungkan senjata, dan pada satu titik, sesuai instingku, aku melompat harimau dengan sangat cepat, bersamaan dengan bunyi letusan senjata yang ditembakkan ke arahku.

TARR!!!!!

Secepat mungkin aku mendarat, lalu memberi mereka semua pukulan telak. Senjata yang aku rampas, melayang diantara kerumunan orang tersebut. Perkelahian brutal terjadi di dalam koridor yang sempit itu. Aku dengan membabi buta menangkap dan menghantamkan beberapa kepala ke dinding koridor. Darah keluar dari hidung dan kepala mereka. Beberapa lainnya yang masih sadarkan diri aku biarkan hidup.

Aku meninggalkan koridor yang panjang menuju lift, tujuanku berikutnya adalah lantai 8, tugasku sekarang setelah berhasil meloloskan diri adalah mencari seseorang di sebuah ruangan di lantai 8 tersebut. Aku menyiapkan senjata di kedua tanganku, senjata yang aku rampas dari perkelahian di koridor. Lift beranjak dari lantai B3 menuju B2, B1, F1, F2, dan terhenti pada lantai F3, aku mengangkat senjata. Pintu lift terbuka, dan tanpa ragu aku segera menembak 5 orang yang mengepungku diluar pintu lift, mereka semua bersenjata. Lagi-lagi terjadi adegan brutal. Aku menembak kelima orang tersebut tepat dikepala, darah mengucur dari kepala mereka. Setelah membereskan jagalan kedua, segera aku meninggalkan lantai F3, naik lagi menuju F4, F5, F6, F7, dan F8. Terdengar suara pintu lift berhenti dan terbuka. Aku siap sedia. Namun lantai 8 terlihat kosong, tanpa penjagaan.

Berjalan perlahan meninggalkan pintu lift, aku dapat merasakan keberadaan orang lain di dalam ruangan itu. Mataku awas ke kiri dan ke kanan, atas dan bawah. Dinding ruangan itu berwarna krim, ada 3 pintu berwarna coklat dari masing-masing sisi ruangan. Aku bersiap pada satu pintu yang berada tepat di depanku. Dan ,,,,

TARRR!!!! TARRR!!!!!

Selisih seperkian detik, aku nyaris tertembak, namun aku segera meloncat ke kiri. Konsentrasiku belum sempurna, namun aku segera bangun, meluncurkan tembakan, tepat mengarah kepada si penembak.

TARRR!!!!

Penembak tersebut tersungkur, lalu mengeluarkan darah dari dadanya. Kantor ini sudah dipenuhi dengan tumpahan darah. Sekaranglah penghabisannya. Aku berjalan memasuki pintu di tengah ruangan tersebut. Ruangan lain dibalik pintu, menyisakan seorang lain yang berdiri menghadap jendela, membelakangiku. Ku perhatikan dengan seksama, dari potongan rambut, bentuk kepala, tinggi, serta besar tubuhnya, tak salah lagi bahwa dialah target operasiku.

“This live is bored for me, kid.” Kata pria tersebut, menyambut kedatanganku, dalam bahasa Inggris beraksen Rusia. Ia membalikkan badan, “You can kill if you want, I’m very thank you.” Pria itu berusia 50 tahun, wajahnya sudah mulai mengkerut, serta rambut yang memutih, matanya teduh.

“Won’t you fight me back?” tanyaku dengan serius.

Pria tua itu hanya tersenyum, “You see me? I’m old enough to kill people. Now, you can shoot me, but the risk of shooting me is very dangerous. Even if you back to Indonesia, our agent won’t let you go.”

Ancaman itu bukanlah candaan, membunuh seorang petinggi intelejen sangat berat resikonya.

“Mr. Kurschev ….” sapaku pada pria tua tersebut. Ia hanya tersenyum mengangguk. “I’m sorry …..”

TARRRR!!!!!

Mr. Kurschev tersungkur, darah lagi, lagi, dan lagi membasahi lantai. Terjadi jeda beberapa detik, aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tak lama setelah aku menarik nafas panjang, dalam keadaan sekarat Mr. Kurschev pun berkata, “Thank …. You …..”

Aku balik berkata, “Thanks Back, Mr. Kurschev ….” dengan tenang.

Sebelum kematiaannya, aku melihat sekilas senyuman di wajahnya. Mr. Kurschev mati dengan ikhlas di tanganku, itu yang aku tahu, namun tugasku di Rusia belum selesai sepenuhnya, masih ada satu target operasi yang harus aku bereskan.

Plok! Plok! Plok!

Aku mendengar suara tepukan tangan, dan setelah melihat Aleksei berada di belakangku, aku tersenyum lebar. Aleksesi si pengkhianat.

Indonesia, tunggu aku, aku akan segera pulang.” kataku dalam hati.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceDeath AngelBetrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

3 thoughts on “Betrayal – Scene 2

  1. jadi,……….ini nyambung, ka…….????

    Posted by yisha | November 21, 2012, 8:41 am
  2. Nah ini baru sambunganan bagus dari Betrayal 1. Tapi kok ada “Choice” ditengah-tengahnya, kalo memang bagian “Choice” itu tidak berfungsi signifikan bisa saja diganti biar benar-benar nyambing antara Betrayal 1-2-3 dan seterusnya. (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: