//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Death Angel


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Hujan lokal kerap datang pada sore hari. Aku menyiapkan segala keperluan dan persenjataan di dalam mobil, sambil berharap cuaca tidak akan menjadi semakin extrem. Awan mendung menutupi langit bagian timur. Sementara itu cahaya matahari menyelinap di antara sisa awan mendung di bagian barat. Senja yang indah berwarna jingga, diiringi dengan gerimis hujan, bagai butiran debu yang kasat mata.

Seseorang yang duduk di depan, memegang kemudi, tak lain adalah Toni. Ia memperhatikanku dari balik kaca spion. Toni yang berwajah persegi, dengan kumis hitam tebal di wajahnya, menambah kesan kegarangan dirinya. Namun dia sangat lembut ketika berbicara. Matanya tajam menyelidikiku, “Kau sangat berbeda dengan Sammy yang aku dengar.” katanya.

Aku menoleh, melalui kaca spion, aku memperhatikan tatapannya, “Berbeda, maksudmu?” tanyaku dengan serius.

“Yah, katanya Sammy selalu tampak dingin dan sigap.” Toni berusaha menerawang ingatannya, “Aku tidak pernah mendengar Sammy sibuk menyiapkan perlengkapan seperti yang kau lakukan. Sekalipun kau adalah kloningannya, semestinya tidak  akan jauh berbeda.”

Perkataan itu seperti menegurku, melihat diriku sendiri yang berantakan, bingung, dan tergopo-gopo, sangat jauh dari kesan profesional. Aku merasa minder. Lalu aku membela diri “Aku masih belajar.” jawabku.

Toni tersenyum, Ia memalingkan tatapannya dari kaca spion, “Baiklah, anggap ini hanya lelucon. Tapi kau harus cepat, waktumu tak banyak lagi, sudah pukul 4.45 sore.”. Ia memperhatikan jam tangannya.

Aku bergegas. Segala perlengkapan aku masukkan dalam sebuah tas punggung, termasuk sebuah senjata genggam. Mengira bahwa misi ini akan sulit, aku menjadi paranoid. Hal-hal yang tidak diperlukan seperti memasukkan amunisi yang berlebihan ke dalam tas juga tersugesti untuk dilakukan.

Dengan cuaca diluar yang tiba-tiba menjadi semakin ekstrem, menyadarkan kebingunganku seketika. Angin kencang berhembus dari sebelah timur. Halilintar dan bunyi gemuruhnya susul menyusul. Aku sempat mengeluh, “Kenapa harus kita lakukan pada hari ini? sore ini? kenapa tidak besok saja?”

Toni menjawab keluhanku dengan penjalasan, “Sal, apa yang kau pikirkan? Pertanyaanmu seperti pertanyaan anak-anak. Kau tahu bagaimana jadinya jika kita tunda misi ini? Sebuah transaksi besar antara gembong mafia Cina dan Indonesia itu akan terjadi. Kita tidak akan mengharapkan itu terjadi, karena akan sangat berbahaya jika mereka menggabungkan kekuatan.”

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya, “Baiklah, tuan cerdas. Aku akan melakukannya tanpa banyak protes lagi.”

Toni lagi-lagi hanya tersenyum melihat tingkahku, “Kau sudah siap?” tanyanya padaku.

“Aku siap, tuan cerdas.” jawabku ketus.

“Hey, ayolah jangan begitu,” Toni berbicara sambil menyalakan mesin mobil, lalu menekan gasnya dengan sangat kuat, “Mari kita berangkat, Death Angel.”

Death Angel atau malaikat kematian adalah julukan bagiku. Mereka menyebutnya demikian karena aku adalah pencabut nyawa yang ulung. Siapapun yang menjadi target operasi tidak akan pernah lolos. Aku mulai naik pamor di kalangan intelejen nasional, kemudian akan menjadi kalangan internasional tidak berapa lama berselang. Sejak Sammy mulai bertugas di level international, semua itu akan menjadi mungkin. Tapi semua track record sebelumnya dibuat oleh Sammy, dan aku baru hidup beberapa minggu yang lalu dari hasil uji coba kloningan yang berhasil; kita tentu sudah tahu ceritanya. Dan mereka menamaiku, Salvatore, the Death Angel, bergandengan dengan Sammy, the Master of Death.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Betrayal – Scene 3The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

3 thoughts on “Death Angel

  1. selamat ya, death angel, .dan…..
    yisha tantang kamu mati in yisha!!!!! 👿

    Posted by yisha | November 23, 2012, 9:32 am
  2. MUngkin ini sebaiknya di masukkan sesudah bagian “School Time”. Ini bertujuan agar alur cerita nya menyambung. Kalo memang mau menjelaskan julukan “Death Angel” saya rasa tdak perlu panjang-panjang kalimat yang digunakan. Pun hanya menjelaskan julukan seorang tokoh saja. (Bastian Arisandi).

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:27 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: