//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

Betrayal – Scene 3


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Ruangan itu tidak hanya menjadi sunyi, namun juga menjadi tegang. Aleksei tepat berada di depanku sekarang. Ia menyeringai seolah-olah dia mengetahui apa yang ada dipikiranku. Tindakan pertamanya akan menunjukkan apakah dia mengetahui rencanaku atau tidak. Aku hanya diam, berdiri membelakangi jendela yang lebar, menghadap pintu ruangan, di mana Aleksei berdiri di depannya. Aku bersiap untuk melompat keluar jendela, bila semua terjadi sesuai rencana. Detik-detik yang aku tunggu itu saat Aleksei menarik keluar senjatanya, dan mulai menembaki diriku. Namun Ia hanya diam, sama seperti aku, belum berani mengambil keputusan.

Aleksei berbicara, sempat menatap langit-langit, bergaya seolah ini adalah sebuah lelucon, “What’s on your mind, Sam?” tanya-nya padaku.

“What’s on my mind?” Aku menjawab, “Do you want to know?” Aku menggerakkan tangan kananku yang memegang pistol, lalu membidik pistol tersebut ke arah Aleksei. “This is on my mind!”

TARRR!!!!

Begitu cepat, peluru itu menembus tubuhku. Aku tak sempat melihatnya. Dari mana sesungguhnya peluru itu berasal? Punggungku terasa panas. Dari kejauhan, ada yang sedang membidikku. Kaca ruangan itu retak. Seorang sniper telah mengincarku, namun aku tidak menyadarinya. Sebuah keteledoran yang semestinya tidak aku lalukan. Tubuhku terasa berat, darah mengucur dari dalam kulitku, menetes dan membasahi bajuku, membuatnya menjadi merah. Aku berlutut, kepalaku hampir menghentak lantai, dalam keadaan menunduk, aku menggeram.

Aleksei menyeringai lagi, “Prick!” Ia berjalan mendekatiku, lalu menendang wajahku dengan keras, “Rogues like you should die earlier! What do you think you would do by letting yourself caught, heh!? You think we’re stupid!? WE KNOW EVERYTHING!!!!”

Hidungku berdarah, mataku terasa perih. Tendangan kaki Aleksei terlalu keras. Aku sekarang seperti sedang dilecehkan.

“And the guy behind the desk who you killed.” Aleksei menunjuk tubuh petinggi intelejen Rusia yang tergeletak dibelakang meja, ” He was an old man, his position is not more than a few months away, so we let you kill him.”

Aku kalah telak, ditipu habis-habisan. Ada kekesalan dari dalam hatiku, namun dalam keadaan seperti ini aku sulit melawan.

“The last thing that you might hear is I BETRAYED YOU.”

Tendangan Aleksei keras menghantam perutku, lagi dan lagi. Aku pingsan, tak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaran itu aku bermimpi. Bermimpi berjalan di sebuah koridor panjang yang tak berhujung. Aku melihat Pak Kumoro menunggu di penghujung koridor tersebut di temani oleh seseorang yang wajahnya tidak kelihatan karena ditimpa cahaya. Dimulai dengan berlari kecil, kemudian berlari sekencang-kencangnya, aku berusaha menggapai ujung lorong tersebut. Namun jarak antara aku dan penghujung lorong tersebut tidak semakin mendekat. Aku ingin pulang, namun aku tak bisa pulang. Teriakan frustrasiku dalam mimpi tersebut memecah pertahanan diriku yang terakhir. Aku merasa ditinggalkan. Cahaya mulai surut, lalu semua kembali gelap.

Beberapa menit kemudian aku tersadar sejenak, mendengar sepenggal pembicaraan.

“Take all his DNA. Erase his memories, then bring him to China, let him live.” perintah seseorang.

“Does it too risk, sir?” seseorang lain membalas

“It isn’t risk anything, he will start a new life in China.” seseorang yang pertama berbicara lagi.

Selanjutnya aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Death Angel, The First Assassination

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

4 thoughts on “Betrayal – Scene 3

  1. masih nyambung, ka…..????

    Posted by yisha | November 25, 2012, 8:41 am
  2. Pada bagian ini nampaknya konfliknya sudah mau mengarah ke arah ‘denounment”. Dari hemat saya mungkin bisa di perpanjang lagi ceritanya biar penyelesaiannya nanti jelas. Apakah “sad ending atau happy ending” dan itu terserah pada penulis. Bisa jadi alur cerita ditambah dengan sedikti kisah romantis misalnya ketika Si Agen bekerja di Rusia ia berjumpa dengan seorang gadis intel juga. Dan kemudian terjalin hubungan cinta antara mereka. Ini bisa jadi akan lebih menarik. Soalnya dari tadi saya belum mendapatkan kisah cinta pemeran utama. heheee ….(Bastian Arisandi)

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:33 am
  3. Tokoh Erlin boleh juga tuh di kembangkan lagi, saya tertarik kelanjutan kisah mereka …. heheheee

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: