//
you're reading...
All, Chapter II - The Distance

The First Assassination


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Tanganku gemetar, udara yang terlalu dingin, membuatku kakiku terasa lemas. Aku berdiri di atas lantai papan itu, berharap aku tidak pernah berada di sini. Sela-sela papan tempat dimana aku bersembunyi, di sebuah gudang kayu tua, tanpa penghuni, menyesakkan saluran nafasku. Debu berterbangan, terlihat dari sorot lampu yang menyinari jalan masuk menuju hutan gunung. Ada seorang penjaga di sekitar gudang, namun gudang yang biasanya tanpa pencahayaan ini mendadak dipenuhi pencahayaan. Area bisnis penebangan hutan liar yang sudah gulung tikar ini sekarang menjadi tempat bagi para germo untuk bertransaksi.

Bersembunyi, itu hal pertama yang aku lakukan. Aku menunggu mereka keluar dengan perasaan aman. Namun perasaanku sangat tidak mengenakkan sejak sore tadi. Ada sesuatu hal yang membuatku merasa gelisah, seperti sebuah insting yang menyuruhku untuk tidak berada di sini, atau lebih baik aku pulang saja. .

Pohon-pohon tinggi disekitar gudang, membuat suasana disekitar menjadi sangat menyeramkan. Aura negatif datang dengan begitu kuat. Aku memperhatikan dari kejauhan bahwa penjaga yang berada di sekitar gudang juga merasa ketakutan. Ia menoleh ke kiri dan kanan, seolah melihat sesuatu yang sedang berterbangan di antara pepohonan tinggi tersebut. Sebuah senter kecil berada digenggaman tangan kanannya. Itu adalah penanda kemana ia akan pergi.

Aku mempersiapkan kacamata inframerah. Terpasang dengan sangat ketat di kepalaku, namun belum kugunakan. Sebuah pembangkit listrik kecil di bagian dalam pos penjagaan adalah sasaranku yang pertama. Terpasang sebuah peledak kecil di sana, yang siap aku ledakkan kapan saja untuk mematikan listrik disekitar. Penyergapan akan dilakukan bertepatan ketika listrik padam. Tanpa penerangan mereka tidak akan menyadari kehadiranku, dan dalam beberapa detik, jiwa mereka sudah dikirim ke neraka.

Dari dekat pos penjaggan, dimana pintu gerbang terbuka, aku melihat dua mobil jeep datang dalam jarak masing-masing 3 meter dari arah yang sama, susul menyusul. Mobil Jeep tersebut berhenti, lalu aku melihat seorang pria berambut putih yang hidungnya sedikit bengkok. Garis wajahnya mencirikan seseorang dengan watak yang keras, “快进来!” Ia berbahasa mandarin. Inilah sang germo dari daratan Cina yang dimaksud.

Dua orang lainnya juga turun dari mobil jeep, satunya aku kenali sebagai orang Indonesia, satunya lagi adalah orang Cina yang lain. “Please come in, Sir.” kata orang Cina tersebut kepada orang Indonesia.

Mereka bertiga memasuki gudang, masing-masing menenteng tas. Kuat dugaan itu adalah tas uang, namun biasanya dalam transaksi seperti ini selalu terjadi pengkhianatan. Salah satu menjadi lebih jahat dari yang lain. Ketamakan atau kebencian adalah bumbu transaksi ilegal. Permainan setan yang diikuti banyak manusia.

Aku mengawasi sekitar, lalu bersiap menghabisi mereka bertiga.

TUSSHHH …..

Aku melihat bahwa pembangkit listrik tersebut sudah mengeluarkan api dan asap. Serentak beberapa lampu disekitar gudang padam. Aku langsung mengenakan kacamata inframerah yang menempel di atas kepalaku. Mengambil posisi dan berlari dengan sangat kencang menuju sisi kiri gudang. Aku menerobos melalui jendela, berguling, lalu mendarat di atas lantai kayu. Akibat gerakan yang atraktif tersebut, suara-suara berisik terdengar di sekitar gudang. Ketiga orang itu pun mengarahkan sentar mereka ke arah dimana aku tadi mendarat, namun aku lebih gesit berlari, sehingga sudah berada tepat di hadapan mereka.

“什么是地狱!!!!” kata seorang cina tersebut, agak panik.

Tanpa membuang tempo, aku langsung meluncurkan tiga tembakan sekaligus. Sangat cepat.

TARRR!!!! TARRR!!!!! TARRR!!!!!

Tiga orang jatuh sekaligus, namun aku berhenti beberapa saat. Andrenalinku memuncak pada saat aku menyaksikan ketiga orang tersebut sudah kehilangan nyawanya. Aku merasakan suatu kekuatan yang seolah menyetrum tubuhku. Tatapanku kosong. Inilah dosa pertamaku yang paling berat, pembunuhan pertama. Darah menggenang di atas lantai kayu tersebut. Aku tahu aku berbuat salah dan hal itulah yang menghantui jiwaku sejak awal. Sebuah tindakan tidak berlandaskan hati nurani. Namun aku meyakini, seketika itu juga bahwa aku terlahir tanpa pilihan. Aku harus melakukannya. Ini adalah awal, awal karirku sebagai seorang pembunuh berdarah dingin, sang malaikat kematian.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

RussiaSalvatoreSurroundedSchool TimeSacrificeBetrayal – Scene 1ChoiceBetrayal – Scene 2Death AngelBetrayal – Scene 3,

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

5 thoughts on “The First Assassination

  1. Ternyata belum masuk endingnya … heheee … Untuk sementara cukup itu saja dari saya, maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. semoga saja komentar saya diterima. Akhirnya silahkan dilanjutkan bung … semoga sukses!!!

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:41 am
  2. Oiya, maaf baru baca secara keseluruhan … heheeee …

    Posted by Bastian | November 29, 2012, 1:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: