//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Loving Her


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Aku selalu menyukai suasana sekolah saat pagi. Cahaya matahari datang dari sebelah timur, menyinari sebagian halaman sekolah yang berumput hijau. Pertengahan November adalah masa-masa yang paling ditunggu sekaligus paling tidak disukai, yaitu Ujian Akhir Semester. Seperti biasa kami para siswa diharuskan belajar untuk menghadapi ujian ini, namun aku, sepertinya sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran. Selain karena tugasku yang bisa dikatakan sangat ekstrem sebagai seorang remaja berusia 17 tahun, juga karena aku jatuh cinta pada seseorang di kelas.

Namanya adalah Sisilia. Ia duduk tepat di depanku sekarang, karena adanya perubahan denah kelas. Duduk disampingku adalah seseorang yang sangat pintar di kelas, namanya adalah Johan. Tubuhnya gendut, berkulit agak hitam, dengan mata yang kecil menghiasi wajahnya yang bundar. Dia berkacamata sesekali, namun jujur, aku lebih suka melihatnya tanpa berkacamata.

Kembali ke Sisilia. Apa yang dapat aku jelaskan mengenai perasaan ini adalah sejak aku terbangun dari tidur panjangku. Seingatku, aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun, mungkin ini adalah perasaan yang disembunyikan oleh Sammy. Perasaan terdalam yang tidak pernah terungkap, karena dia sibuk dengan kehidupannya sendiri. Tapi benar, ini bukanlah rekayasa ingatan, aku menyukai Sisilia.

Sammy belum juga kembali dari Rusia. Aku mulai menduga, bahwa sesuatu terjadi padanya. Sempat kuperhatikan bahwa ada banyak agen asing yang berdatangan belakangan ini. Mereka seperti melaporkan bahwa bahaya sedang menuju ke Indonesia. Tapi diantara mereka, aku tidak pernah melihat Sammy lagi, tidak untuk 2 minggu belakangan. Apakah dia mati terbunuh? Yang terbaik, aku berharap, dia hanya tercegat di bandara atau pun pelabuhan.

Pagi ini adalah pelajaran matematika. Aku sering sekali menguap, jika berurusan dengan ilmu eksak. Sama sekali tidak menarik, menurutku. Namun teman disampingku, Johan memperhatikan dengan sangat serius. Dia hampir tidak mempedulikan penderitaanku. Kacamata minusnya silau terkena pantulan sinar yang masuk melalui kaca jendela. Tanda-tanda kepintaran yang sangat menonjol dari Johan, saat ia sangat tertarik dengan pelajaran matematika. Aku yakin anak ini akan menjadi orang yang sangat penting suatu hari nanti, setidaknya menjadi seorang ilmuwan.

Sementara aku? Sangat menyedihkan. Halaman bukuku masih kosong. Pena yang kugenggam, enggan aku gerakkan. Semakin berlalu, semakin aku terbengong. Aku mengingat malam pembunuhan yang aku lakukan beberapa hari yang lalu, dan seringkali ingatan itu menghantuiku. Sikap melamun dan lupa akan keberadaan, karena suatu schok dan kegelisahan atas perbuatan yang tidak bermoral, mungkin salah satu penyebab gangguan kejiwaan. Merasa sedikit ketakutan dan bersalah, namun sesekali merasa hebat dan superior. Siapapun mungkin akan menganggapku sudah gila.

Seketika itu juga, saat aku merasa bahwa tatapan itu terlalu tajam, hatiku luluh lantak. Sisilia memperhatikanku dari depan, lalu meminta ijin untuk meminjam penggarisku. Aku gugup, uluh hatiku tertusuk. Johan dengan sigap langsung menyodorkan penggaris tersebut kepada Sisilia. Aku hanya memperhatikan sambil menunduk menelan ludah. Johan yang tidak peduli, Sisilia yang tidak tahu menahu. Lengkap sudah sandiwara yang lucu dikelas ini. Dengan gerakan halus, Sisilia mengembalikan penggaris yang dipinjamnya kepadaku. Berbalik menghadap kebelakang, ucapan terimakasih terucap dari bibirnya yang mungil, “Terimakasih …..”

Perutku terkocok. Uluh hatiku tertusuk lagi.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

StrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggleTearsChristmas EveFuneral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

7 thoughts on “Loving Her

  1. ilmu eksak itu apa ka?
    hm, ini berats………

    Posted by yisha | November 29, 2012, 7:58 am
  2. hahaa …. mantap bos, jadi ingat Joyan Yap sang ilmuwan di kelas kita dulu. top markotop lah …. (Bastian Arisandi)

    Posted by Bastian | November 30, 2012, 12:25 pm
  3. love her too 😛

    Posted by cumakatakata | December 1, 2012, 2:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: