//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Stranded


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Dimanapun aku berada, ini adalah pengalaman hidup yang berharga.

Terbangun dari kesadaranku untuk kesekian kalinya, aku menemukan diriku di sebuah ruangan berdinding batu, tanpa warna, semuanya tampak gelap dan kotor. Aku terbaring di atas lantai dengan beralaskan tikar. Atap ruangan itu terbuang dari genteng batu, terlihat dari beberapa langit-langit yang berlubang. Sebuah lampu penerangan tergeletak di atas sebuah meja kayu tua, dengan hanya satu-satunya kursi di dekatnya. Tempat apa ini, dimana aku? Di salah satu sisi dinding terdapat jendela, aku menengadah ke arah jendela tersebut. Aku melihat sebuah sungai berwarna coklat dari balik jendela dan menemukan hamparan rumput hijau yang luas, disertai gunung-gunung yang mengitari sungai tersebut. Sementara itu langit sangat mendung, disertai embun yang tebal menutupi sekitar rumah. Cuaca sangat dingin, dan kuperhatikan, aku memakai sebuah mantel bulu hewan yang tebal.

Dari pintu ruangan terdengar suara tapak langkah kaki yang mendekat, dan beberapa saat kemudian, seorang wanita tua sedang berjalan masuk ke dalam ruangan di balik pintu membawa gulungan kayu bakar. Ia melemparkannya ke sebuah tungku api, membelakangiku. Aku maju beberapa langkah ke depan. Ketika wanita tua itu berbalik dan memperhatikanku, ia mendadak terkejut, lalu berlari ke luar, memanggil nama seseorang, “AWEI!!!!” Teriakannya membahana, menghiasi pagi yang sunyi di tempat yang antah berantah. Kepalaku nyeri beberapa saat setelah teriakan tersebut terdengar. Seakan baru tersadar dari dalam mimpi, aku sama sekali tidak ingat apapun.

Seseorang yang lain masuk ke dalam ruangan, kali ini seorang anak muda yang hampir seumuran denganku. Mungkin dia yang dipanggil oleh wanita tua tadi sebagai Awei. Anak muda tersebut berkulit putih dengan banyak noda-noda hitam disekitar wajahnya. Matanya sipit, sesipit orang daratan Cina, dan tanpa banyak ragu, aku tahu bahwa ia adalah orang Cina. “你叫什么名字?” tanyanya padaku. Bahasa yang sungguh aku tak mengerti, bahasa apa itu? Apakah itu bahasa yang seharusnya telah aku kuasai sebelumnya? Hanya saja aku lupa?

Aku terdiam sejenak untuk mulai bicara “English ….. ? Yeah, English?” tanyaku padanya.

Anak muda itu tersenyum, senyum yang manis, lalu berkata “Speak English? Sure, I can.”

Aku lega, aku bisa mengerti apa yang dia bicarakan. Lalu dengan gerakan perlahan aku maju hendak menghampiri anak muda tersebut, namun ia mundur selangkah tepat ketika aku maju selangkah. Wanita tua yang tadi berlari keluar dari dalam rumah, kini kembali masuk dan berdiri di balik anak muda tersebut seperti hendak berlindung, “这是谁的人,阿伟?” katanya pada anak muda tersebut, yang kukira bernama Awei.

Awei menoleh ke arah wanita tua tersebut, lalu menoleh lagi kearahku bergantian, seakan bingung apa yang harus dia katakan. “Who’s your name, sir?” tanyanya padaku beberapa saat kemudian setelah terhenti pada tatapan yang tajam ke arahku.

Aku hendak menjawab, namun seakan tersetrum lagi, aku tidak sanggup menjawab apapun, ingatan yang ada dikepala, siapa diriku, hilang. Aku lupa ingatan. “I ….. I ….. I don’t know” jawabku sambil menggelengkan kepala.

Apa yang terjadi? Aku sedikit ketakutan, sambil memegang kepalaku, berharap dapat merasakan ingatanku kembali, bahkan mungkin mengembalikannya kembali. Pertanyaan yang sederhana tentang siapa diriku tidak sanggup kujawab. Namaku? Ya, namaku. Siapa namaku?

Awei memperhatikan tingkahku, lalu mendekat perlahan, mengulurkan tangan kirinya, hendak menyentuh lengan kananku, “You will be allright, here.” katanya padaku, berusaha menenangkan. “I’m Awei,” katanya sambil meletakkan tangan kanannya di dada. “And …. She is my mom.” Ia menunjuk ke arah wanita tua tersebut, “You can call him Madam Yo.” Wanita tua tersebut berusaha tersenyum, namun ia masih tampak kebingungan.

“我的儿子这是谁的男人?” Madam Yo berbicara dalam bahasa mandarin. Ia sepertinya sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris.

Awei berusaha menjelaskan kepada Madam Yo tentang apa yang telah terjadi dalam bahasa ibunya. Penjelasan yang cukup panjang, namun tidak kusimak, sampai akhirnya aku melihat anggukan dari Madam Yo dengan diiringi senyum yang tulus. Rasa bingungnya sudah terjawab melalui penjelasan anaknya Awei. Aku merasa tenang. Dimanapun aku berada, seperti berada dalam naungan keberuntungan.

Dan disinilah aku sekarang, terdampar di negeri antah berantah yang bahkan aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Karena rasa penasaran, aku segera menanyakannya pada Awei. “Awei, Where am I?”

Aku mendengarkan  jawaban Awei dengan seksama, “You’re in Gansu, China …..” sebutnya.

Gansu? Cina?

“I’m in Gansu, China?” tanyaku lagi.

“Yes, Sir. You’re in Gansu, China.”


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggleTearsChristmas EveFuneral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: