//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Forgotten


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

“Aku belum mati. Itu adalah kenyataan.”

Jika senja itu datang, di desa yang terpencil ini, alam seperti hendak tertidur. Aku melihat pantulan sinar matahari senja dari atas aliran sungai. Tempat ini, tempat yang paling aku sukai. Seminggu aku di sini, tanpa memiliki ingatan apapun tentang kehidupan ku sebelumnya; namun aku merasa bahwa aliran sungai ini adalah sahabatku. sahabat yang terhubung erat dengan jiwaku. Sekelabat ingatan kecil itu datang, hanya sekilas, samar-samar, dan akhirnya membuat kepalaku kembali terasa sakit.

Hari yang panjang telah aku lalui dengan bekerja keras di ladang, membantu seorang pemuda periang bernama Awei. Sebagai kompensasinya, setelah berhenti dari aktivitas, sebelum pulang ke gubuk untuk beristirahat, kami akan duduk menggelar tikar untuk menikmati keindahan alam yang tersaji. Aku dan Awei sepakat untuk mampir di bawah sebuah pohon yang rindang, yang aku tidak tahu nama jenis pohonnya. Pohon itu, tanpa arti sebuah pengetahuan, cukup berguna untuk meneduhi kami dari hangatnya pancaran sinar matahari. Rumput-rumput di sekitar tepi sungai kurasakan agak basah, karena hujan tadi siang. Namun saat ini hujan tersebut sudah mereda. Awan mendung tertiup menuju ke barat, tertutupi oleh tingginya gunung.

Di atas hamparan hijau itu, aku selalu diingatkan, bahwa Awei menemukanku tergeletak pingsan pada suatu pagi berkabut. Ia hendak pergi ke sungai untuk membasuhi diri, namun aku tanpa mengenakan pakaian; ditemukannya. Sebuah kebetulan? Atau mungkin aku memang disingkirkan ketempat ini dengan suatu maksud, dan aku tidak tahu atas kuasa apa yang menitipkanku di negeri antah berantah ini. Pertanyaan itu sering menghantuiku, dan aku sangat yakin bahwa aku adalah seseorang. Ya, seseorang. Seseorang yang aku kenali, ketika aku menatap wajahku di atas aliran sungai tersebut. Tapi siapa dia?

Awei yang duduk bersila disampingku, memungut kerikil-kerikil kecil lalu melemparnya ke tengah sungai. Aku menyaksikan gerakannya dengan seksama, “Do you know?” kata Awei, “I had to throw these stones ten time to be success.” Ia tersenyum.

“What do you think, Awei?” tanyaku dengan serius.

“You can do the same as I do, you just need time.” katanya lagi.

Sempat berpikir dan mencerna maksud perkataan Awei, akhirnya Aku mengerti. Aku mengerti, bahwa Awei ingin aku tidak perlu mencemaskan kehidupan masa lalu yang telah hilang dari ingatanku. Hidup adalah untuk sekarang, bukan untuk masa lalu, dan aku belajar memahami, bahwa kenapa terkadang kita harus lupa akan masa lalu. Itu demi suatu keyakinan bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Apapun dosa dan kebaikan kita yang pernah kita lakukan, itu tidak akan berarti apa-apa, jika kita masih tanpa perubahan yang positif.

Hanya perlu waktu.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggleTearsChristmas EveFuneral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

6 thoughts on “Forgotten

  1. yap, hanya perlu waktu……….

    Posted by yisha | December 9, 2012, 10:47 am
  2. kita hidup di hari ini … yang lalu biarlah berlalu, hari esok masih menunggu …

    Posted by Wong Cilik | December 10, 2012, 10:00 am
  3. hanya kita sendiri yg bisa merubah hidup kita….

    Posted by kangyaannn | December 10, 2012, 7:57 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: