//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Winter


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Musim dingin telah tiba. Sunyi. Seperti alam tidak lagi memberi harapan. Cuaca yang sangat dingin diluar tidak memungkinkan bagi kami, manusia yang tinggal di pedalaman desa untuk beraktifitas. Musim semi yang dinantikan, masih dua bulan menjelang. Aku, Awei beserta Ibunya, Madam Yo, berteduh di dalam sebuah gubuk kecil. Pintu dan jendela ditutup, dan dengan mengandalkan tungku api, kami berusaha bertahan. Hal ini sudah terjadi setiap tahun, tanpa perubahan berarti. Namun seperti biasa, Awei hanya tersenyum, berusaha tegar, dan dia terus memikirkan bagaimana caranya agar dapat membawa Ibunya keluar dari kehidupan yang sangat menyiksa ini.

Aku membungkus diri dengan sangat rapat. Mantel-mantel bulu yang tebal, saat ini cukup dapat diandalkan. Dengan bersandar di dinding gubuk, aku sempat tertidur. Seingatku Awei sedang menghangatkan jari-jemarinya di sekitar tungku api, sementara Madam Yo sedang memasak sesuatu yang panas, yang mereka sebut sebagai sup musim dingin.

Tubuh yang terselimut kehangatan, dan kenyamanan yang ditawarkan oleh nyenyaknya tidur, mendadak sirna, ketika aku dikejutkan dengan bunyi berisik yang berasal dari dalam ruangan. Saat tersadar, aku sudah melihat Madam Yo tergelak di lantai, tak sadarkan diri. Awei yang berada di dekat tungku api langsung meloncat dari dudukannya, menghampiri ibunya, sambil berteriak “母亲!”

Apa yang terjadi?

Awei sangat panik, sambil mengguncang-guncang tubuh Madam Yo dengan sangat keras. Aku menyusul bangkit sambil merapikan alat-alat masak yang jatuh berantakan di lantai, yang terjatuh saat Madam Yo tumbang. “What happen!?” Tanyaku pada Awei tak kalah panik.

“I don’t know!” Awei menggeleng, dan aku benar melihat darah mengalir dari mulut Madam Yo. Darah yang segera membeku setelah beberapa saat keluar dari dalam tubuh.

Tubuh Madam Yo sangat panas. Aku merasakannya saat aku menyentuh tangan beliau. Ini adalah demam tingkat akut, aku menyarankan agar Madam Yo segera dibungkus dengan mantel yang tebal. Maka aku melepaskan mantel yang aku kenakan dan mengenakannya pada Madam Yo. Awei juga melakukan gerakan yang sama. Sekarang Madam Yo sudah dilapisi mantel sebanyak 3 lapis. Kami membaringkan beliau di tengah ruangan, dekat tungku api. Awei duduk terpekur, dan lemas. Sementara aku masih bingung apa yang harus dilakukan.

Maka ide gila itu mendadak muncul, “We should bring my mom to a doctor ……” kata Awei.

“What!? Doctor!?” tanyaku gegabah, hampir tak percaya dengan apa yang ada dipikiran Awei.

“It will be same, like my father.”

Ayah Awei, suami Madam Yo, bernama Mr. Yo, mangkat pada musim dingin. Itu yang mereka ceritakan. Pada waktu itu Madam Yo tinggal bersama Mr. Yo. Sempat kebingungan ketika suaminya jatuh sakit pada musim dingin, maka Madam Yo tidak melakukan apa-apa, selain menunggu di dalam gubuk ini. Musim Semi  pun tiba, namun Mr. Yo sudah tidak sadarkan diri. Beliau tidak sedang tertidur lagi, beliau sudah mangkat. Kejadian itu merupakan suatu pukulan telak, baik bagi Madam Yo, begitu juga bagi anak mereka, Awei. Sejak saat itu Awei berjanji akan melakukan apapun untuk melindungi Ibunya. Sekarang semua janji-janji itu akan segera dibuktikannya. Namun ketika melihat keluar, melewati dinding gubuk yang tebal, maka perjuangan untuk membawa Ibunya ke dokter sangat tidak mudah. Ia harus melewati badai, bahkan Ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Keberanian. Anak ini memiliki keberanian, maka aku menanyakan sesuatu yang melecut semangatnya, “How far that we should go to get a medical help?”

Awei menatapku tajam, “80 kilometers.” jawabnya datar.


-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowKidnappedStormSilentStruggleTearsChristmas EveFuneral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

4 thoughts on “Winter

  1. 80 km? dengan cuaca seperti itu pasti sangat teramat sulit sekali, hampir mustahil untuk menempuhnya kalau tidak ada keajaiban dari Tuhan. Setidaknya pertolongan pertama dalam keadaan darurat sudah diberikan yang barangkali dapat mengurangi kondisi madame.

    Posted by HALAMAN PUTIH | December 15, 2012, 12:06 pm
  2. yisha pasti gagal…………….

    Posted by yisha | December 15, 2012, 2:38 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: