//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Silent


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Kesunyian ini.

Aku menyembunyikan diriku sendirian di kamar. Kejadian yang aku alami beberapa hari yang lalu membuat tanganku tidak dapat berhenti bergetar. Aku tidak sanggup untuk sejenak saja merasakan ketenangan. Tatapanku kosong, jauh menembus jendela kamar, terus membayangkan hal-hal yang mengerikan yang mungkin saja terjadi padaku. Masih; punggung ini terasa sakit, balutan perban membungkus luka di tubuhku dengan sangat rapat.

Aku mengharapkan penjelasan, dan mungkin kesendirian ini adalah pelampiasan amarahku. Dunia yang tidak mengerti. Dunia yang sibuk dengan ego-nya masing-masing. Dunia yang membuatku merasa muak.

Kehidupan ini seperti mengisolasi diriku. Memberi aku sebuah keberadaan tanpa pilihan. Aku ingin melawan semua takdir yang mengharuskan aku berada di sini. Namun, seperti apa yang dipakasakan padaku, inilah diriku apa adanya. Tanpa mengenakan identitas, aku hanyalah manusia ciptaan dari hasil uji ilmiah. Selayaknya seonggok daging berjiwa, tapi lebih rendah dari manusia lainnya.

Tubuhku tersandar di dekat jendela. Lantai yang hampir sejajar dengan jendela, membuatku bisa melihat pemandangan di luar dengan sangat jelas, tanpa terhalangi oleh tembok. Sinar matahari masuk melalui jendela dan aku membiarkan lututku sedikit terkena sinar matahari. Jam 7 pagi sekarang. Hari sudah tiba.

Aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga, lalu disusul suara orang yang membuka pintu kamar. Tanpa menoleh, aku sudah mengetahui siapa yang datang. Dia tak lain adalah Ernie, dan dari aroma tubuhnya, aku dapat mengenalinya. Ia tentu datang untuk membujukku untuk keluar dari kamar, itulah yang aku duga. “Sam …..” sapanya padaku.

Aku menjawabnya dengan dingin, “Harus berapa kali aku beritahu, aku bukanlah Sammy.”

Ernie seringkali menunduk ketika sikapku mulai tidak ramah. Lalu Ia akan segera mengatakan segala sesuatunya dengan gugup, “Aku ….. aku …..”

“Sudah, Cukup.” Aku memalingkan pandanganku pada Ernie lalu memintanya untuk keluar ruangan, “Aku perlu waktu untuk sendiri, biarkan aku sendiri.”

Suasana hatiku sedang tidak mengenakkan, dan aku berharap bahwa aku bisa sendirian saja di dunia ini. Apakah itu merupakan suatu penarikan sosial? Aku bisa menjadi sangat pendendam pada saat dimana aku merasa kecewa dan kesal. Deretan kejadian yang sangat membuatku ketakutan, sangat ketakutan. Tanpa ada siapapun yang bisa menjelaskannya padaku.

Hanya dia, Ernie, seseorang yang bisa mengerti keadaanku. Ia tahu bahwa aku memerlukan suatu dukungan moral. Tapi dengan terang-terangan, aku menolak kehadirannya disisiku. Apa yang telah aku lakukan? Konflik apa yang merasuki jiwaku? Mungkin hanya karena aku merasa tidak puas dengan panggilan ‘Sammy’. Aku bukan Sammy, aku adalah Salvatore. Aku sepenuhnya adalah Salvatore.

Kesunyian ini. Kesunyian yang membuatku merasa terasingkan. Dan hanya aku; aku sendiri yang menyadari keberadaanku.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormStruggleTearsChristmas Eve, Funeral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

2 thoughts on “Silent

  1. penarikan sosial apa ya ka?

    Posted by yisha | December 21, 2012, 8:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: