//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Struggle


Struggle

Struggle

Bertahan semampunya. Tidak mempedulikan apa yang akan terjadi. Malam datang menyerang. Ia seperti musuh yang selalu mengintai ketakutan kami. Aku tetap terjaga, tidak sanggup tertidur. Rasa gelisah dihatiku semakin menjadi-jadi saat melihat badai yang belum berhenti sejak tadi pagi. Ini adalah horor di tengah hutan. Tak pernah terbayangkan jika alam bisa menjadi seganas ini. Teman pemberaniku, Awei, pernah bercerita bahwa musim dingin di Beijing sangat indah. Jalanan yang dipenuhi lampu dan suasana yang meriah menyambut Tahun Baru masehi. Namun semua itu berbeda di sini, musim dingin sama sekali bukan sesuatu yang indah dan bukan merupakan sahabat yang dapat dipercaya. Ia senyap pada waktu tertentu, dan bisa tiba-tiba mengamuk pada waktu yang tidak kita duga.

Menghadap tungku api yang menyala, aku duduk bersandar pada sebuah dinding batu. Aku melihat jilatan api seakan tidak berdaya melawan cuaca. Ia tidak sekuat pada musim panas. Ia kini lemah seperti bahwa alam telah mengkhianatinya.

Di pojokan lain, di bagian gua yang paling dalam, duduklah Awei. Sama sepertiku Ia sedang bersandar pada sebuah dinding batu. Sementara Madam Yo, Ibu Awei, kami baringkan di atas lantai batu dengan beralaskan empat kain tebal dekat tungku api. Hal ini kami sengaja suapaya Madam Yo tidak merasa kedinginan. Biarlah kami yang sedikit menderita kekurangan perlindungan, karena harus mengorbankan banyak mantel sekaligus menahan dingin yang menusuk hingga tulang.

Dalam diam, aku melihat Awei seperti sedang berdoa. Ia memejamkan matanya. Kedua tangannya bertemu.

“What’re you doing, Awei?” tanyaku, merasa ingin tahu secara jelas.

“I’m praying …..” Ia menjawab sambil memejamkan mata.

Aku berpikir. Sempat menduga bahwa doa hanya akan membawa kesia-siaan, maka aku bertanya balik kepada Awei, “For what?”

Untuk Apa? Untuk apa berdoa? Pertanyaan itu menggema dalam bisikan di hatiku.

“I’ve heard in Winter God will give His grace to us.” Awei menjawabku dengan lembut.

Ketika aku memperhatikan Madam Yo lagi, aku melihat bahwa kematiannya adalah jalan terbaik. Ia sudah menua dan lemah. Ia mungkin bisa beristirahat dengan tenang, dan Tuhan akan membawanya pergi dari kehidupan yang sangat menyiksa ini. Maka aku tahu apa yang aku jelaskan kemudian. Pada pemahanku, ini adalah jawaban yang diberikan Tuhan kepada Awei.

“If you mom dead, probably, this is ther answer from God.”

Awei seperti sedikit tersinggung, mungkin salah memahami maksud dari ucapanku. “What!? the answer? Do you think, I prayed for mom to dead?”

“No.” Aku menyela, “Your mom will die, this is the only way to bring your mom at a peace.”

Dari bahasaku, tercermin gelagat pesimisme dan pasrah. Awei tampak tidak senang, lalu bangkit berdiri. Ia menarik kerah bajuku, lalu memberikan pukulan telak di wajahku. “For almost 50 years, mom survive to treat me as his son. Now you tell me to let her die. You MORON!”

Aku tidak melawan. Aku sama sekali tidak melawan. Aku tahu anak ini hanya ingin berbakti pada orang tua, namun Ia harus selalu bersiap-siap untuk menerima hal yang terburuk. Awei melepaskan tarikannya dari kerah bajuku, lalu kembali pada posisi duduknya. Setelah menghajarku, Ia tampak sedikit lega. Mungkin dia mulai menyadari bahwa ucapanku ada benarnya.

Suasana kembali sunyi. Aku menyentuh rasa sakit diwajahku akibat pukulan Awei, terasa seperti menguap, kemudian ngilu. Aliran darahku tidak bereaksi, mungkin separuh dari tubuhku telah menjadi beku. Begitu juga hati, hati yang tidak lagi hidup dengan penuh semangat optimis.

“God, let it be Your will.” Doa Awei terdengar samar-samar, menembus tembok gua, melayang diantara angin dan salju, menuju langit, dan akhirnya sampai dipangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Apa jawab Tuhan? Apa yang akan terjadi, itulah jawab Tuhan.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentTearsChristmas Eve, Funeral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: