//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Tears


Tears

Tears

“Kami sudah melakukan semua yang terbaik, malah mungkin terbaik dari yang terbaik. Tapi apa yang akan bisa kami perbuat, jika itu terjadi tanpa kuasa kami. Manusia hanya bisa pasrah, dan detik dimana kenyataan itu menghantam sikap optimis kami, maka kami perlu kekuatan tambahan untuk bangkit.”

Aku tidak menyarankan pemuda pemberani itu untuk menerjang badai, namun Ia sangat keras kepala. Dalam pandangannya terhadapku, aku hanyalah seorang yang pesimis dan lemah. Kesalahannya adalah menempatkan pandanganku di belakang keegoisannya. Aku tidak bisa mendebatnya kali ini, karena yang diperlukannya hanyalah kenyataan. Kenyataan yang mungkin akan membuatnya sadar.

Dari belakang, aku memapah semua perlengkapan dipundakku. Aku menyusul Awei dalam terjangan badai. Madam Yo dipapahnya dengan tenaga seorang kuli tani. Ia sempat terhuyung-huyung ketika berjalan melintasi tanah yang melandai. Berkali-kali Ia hampir terperosok, namun tampaknya keberuntungan masih berpihak padanya. Yang aku lebih khawatirkan adalah keselamatan Madam Yo. Seorang anak yang bertindak dalam keterlibatan emosinya bisa saja melakukan sesuatu yang ceroboh.

Aku tergopoh-gopoh. Beban yang ada dipundakku tak kalah beratnya, maka aku pun tak bisa berkonsentrasi dengan baik ketika melangkah. Kaki yang sempat terkilir satu hari yang lalu masih menyisakan rasa sakit. Hampir tertinggal dan kehilangan jejak, aku berusaha setidaknya mempercepat langkahku. Pandangan bisa menjadi buram seketika pada saat angin bertiup terlalu kencang.

GUBRAK!!!!

Hilang keseimbangan, tubuhku terjatuh di atas hamparan salju yang meninggi. Kekesalanku kian memuncak. Sumbu emosi yang terus-menerus tersulut hampir menuju batas penghujungnya. Dengan kegeraman, aku berteriak dengan keras, seperti hendak berburu mangsa, “ARGHHHH!!!!!!!!!!” Suaraku menggema, menembus batas waktu. Aku melihat bahwa keegoisan telah membuat perangkapnya dengan sangat rapi.

Awei telah menghilang dari pandanganku, namun dengan menyeret tubuhku beberapa meter ke depan, aku mendengar suara isak tangis. Menatap pada jalanan perbukitan yang menurun, aku melihat sesosok orang sedang berlutut. Aku menyelidikinya dengan seksama, dan menyadari bahwa itu tak lain adalah Awei. Ibunya sedang terbaring di atas hamparan salju. Mungkin sudah kehilangan nyawanya. Wajah Madam Yo pucat, sangat pucat, tubuhnya kaku, dan membatu. Aku tahu itu adalah pertanda seseorang telah meninggal.

“母亲!” Teriak Awei, “母亲!” Teriaknya lagi.

“母亲!!!!”母亲!!!!” Terus menerus sampai suaranya serak, dan pada adegan terakhir ini. Ia berteriak pada alam semesta dengan sangat keras. “母亲!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Ia adalah seorang anak yang memanggil jiwa ibunya yang telah pergi jauh. Jauh sekali, melewati dimensi tempat dimana anak itu menangis dan meneteskan air mata; Ibunya telah beristirahat dengan tenang sambil tersenyum. Aku hanya memperhatikan, memperhatikan bagaimana sekarang anak itu merasa terasing. Tembok tebal berdiri antara ia dan kehidupan. Ia seperti tersesat, dan kini sikap optimisnya pun mengkhianatinya. Aku menunggu, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan tembok itu.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggleTears, Christmas Eve, Funeral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: