//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Christmas Eve


Christmas

Christmas

“Tanggal 24 Desember 2012”

Senja telah datang, aku bersiap, merapikan diri, berbaur dengan keramaian diluar. Setelan baju yang kupilih adalah baju hoody dan celana jeans berwarna biru, tidak lupa sebuah tas selempang yang berisikan barang-barang dari masa lalu. Aku berangkat sendirian dengan berjalan kaki. Hari ini aku akan mengubur mereka dalam abu. Ingatan itu harus menguap, dan menyatu dengan semesta. Sebuah aksi dramatis ini adalah perayaan bagiku, sekaligus penghargaan atas pelepasan jiwaku yang dahulu.

Di jalanan, semua orang berbahagia. Banyak cerita yang tersandiwarakan, yang masih sanggup aku ingat pada masa-masa yang silam. Ketika terdampar di negeri Cina, dan menolong seorang pemuda yang ingin menyelamatkan ibunya di tengah amukan badai. Terkenang dua nama dalam peristiwa itu, nama yang sekalipun hanya ada dalam kehidupanku sebagai Sammy. Ia selayaknya barang berharga yang menuntutku untuk tetap menaruh rasa hormat.

Memasuki kawasan urban, tepat dimana aku melintas, terdapat gereja yang ramai dengan pengunjung. Aku memperhatikan dari luar, namun sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Aku hanya mendengar nyanyian. Nyanyian dari dalam gereja, mengiringi tiap langkahku yang menjauh dari pusat keramaian.

Ada banyak hiasan disekitar jalan. Mereka berkelap-kelip, membuat kota terlihat sangat indah bila dipandang. Apakah ini adalah malam yang terlalu khusus bagi dunia ini? Tak berapa jauh dari tepi jalan tersebut, aku melihat pengemis sedang duduk, beralaskan koran, meminta sedekah. Pemulung sampah mendorong gerobaknya, mengais tong-tong kotor diperempatan. Mereka akan mendapatkan kelimpahan pada hari ini, jauh lebih banyak dari hari biasa, dan tiba-tiba saja kehidupan menjadi sangat ramah dengan mereka.

Aku menuju sebuah taman. Taman yang sepi. Aku berusaha mendirikan altar tersendiri, berdoa, mungkin doaku berbeda. Tuhan mungkin melihatku dengan jelas dari atas. Aku berharap Tuhan tidak keberatan dengan sikapku.

Setelah berdoa, aku mengeluarkan catatan-catatan tentang korban dan kesaksian dari dalam tas selempang yang aku bawa. Auranya menghantarkan kegelapan. Siapapun akan mencium aroma kematian dari tulisan yang melegenda itu. Ini adalah malam terbaik, dan momen yang tepat. Ketika aku bisa keluar dari kebanggaanku yang dulu. Semua itu seperti seperti sampah, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk memiliki kehidupan yang normal.

Aku sekarang adalah pegawai swasta di sebuah perusahaan. Aku bekerja sewajarnya dan menikmati kehidupan ini sebagaimana manusia pada umumnya. Aku akan berkeluarga dan punya anak. Aku bisa berjalan-jalan tiap akhir pekan, dan menikmati masa tua dalam ketenangan. Itulah harapan, harapanku, dan mungkin sedikit alasan untuk tetap menghargai kehidupan ini.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk

-Selamat Hari Natal/Merry Christmas-


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggle, Tears, Funeral, Wisdom

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

7 thoughts on “Christmas Eve

  1. moga harapanya jadi kenyataan gan….

    Posted by kangyaannn | December 24, 2012, 9:39 pm
  2. makin asyik? hm, yisha agak .. 😕

    Posted by yisha | December 26, 2012, 9:14 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: