//
you're reading...
All, Chapter III - Complication of Life

Wisdom


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Terkadang kita terlalu mengeraskan hati. Kita bermaksud melawan semua rintangan yang menghadang. Kita dengan keras memukul dan menerjang, namun akhirnya tersungkur karena benturan kerikil kecil. Kenyataan itulah yang disebut kehidupan, tidak selalu dapat kita perjuangkan sebagaimana yang kita harapkan. Salah satu bagian terpenting apabila semua itu terjadi adalah berusaha bijaksana dengan mengikhlaskannya.

Awei berdiri tepat disampingku. Saat ini kami berdiri di atas dua makam. Pasangan suami istri, Mr. Yo dan Madam Yo terkubur ditempat yang sama. Mereka kini beristirahat di tempat yang layak. Pemakaman ini tanpa kembang. Aku hanya memegang sebuah pacul di tangan kiri, pacul yang kami gunakan untuk menggali makam bagi Madam Yo. Bebatuan disekitar kami kumpulkan, lalu menumpuknya diatas makam untuk dijadikan tanda. Untuk pertama kalinya mungkin aku terlibat dalam perasaan yang teramat sedih. Bagaimana semua kejadian ini tidak sanggup merubah cara pandangku?

Dengan perlahan aku mengelus pundak Awei, lalu berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk memberinya penghiburan, “Your mom is dead, as I said you have to accept it.”

Awei hanya diam. Air mata tidak lagi mengalir dari pelupuk matanya. Mungkin telah membeku sejak kami berangkat naik, mendaki ke atas lembah ini. “I dreamed to bring my mom out of this life.” katanya lirih.

Impian itu. Impian untuk membawa Ibunya dari kehidupan yang menyiksa ini telah didengungkannya sejak mula-mula aku bertemu dengannya. Namun kini impian tersebut harus pupus, dan menjadi keinginan yang tak lagi dapat diwujudkan.

“But …..” Awei melanjutkan, “I can go now by myself.”

Setelah kematian Ayah dan Ibunya, Awei sekarang resmi menjadi anak yatim piatu. Ia adalah perlambangan kebebasan yang harus dibayar dengan rasa kehilangan. Ia kini bagai burung elang yang hendak terbang mengelilingi dunia, mengepakkan sayapnya, meninggalkan jejak dari negeri ke negeri lain, menjadi petualang sejati. Dari sorot matanya, semua itu seperti terbangunkan.

“Where’d you go now?” tanyaku dengan rasa penasaran.

Apa yang ada pikiran Awei kadang sangat sulit ditebak. Ia bisa dengan tiba-tiba melontarkan ide gila, dan bisa juga memberikan pandangan yang bijak. Pertumbuhan anak ini melebihi usianya. Kerasnya kehidupan telah melesut punggungnya untuk tidak menjadi pribadi yang lemah.

“I’m going to Beijing.” Awei menjawabku dengan pasti dan mantap.

Menembus cakrawala yang tersamar oleh salju, kami berdua menatap arah timur. Dari balik gunung yang menjulang tinggi tersebut, ada sebuah kota besar di daratan Cina, bernama Beijing. Kota yang mungkin bisa lebih bersahabat terhadap jiwa dan pikiran anak muda seperti kami, atau malah justru sebaliknya. Semangat itu seperti kembali memacu adrenalinku; aku siap berpergian lagi, mengadukan nasib pada dunia. Aku dan Awei menatap satu sama lain, kemudian saling tersenyum.

Beijing, tujuan kami berikutnya.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Loving HerStrandedErniePoorHigherForgottenDreamBlack ShadowWinterKidnappedStormSilentStruggleTearsChristmas Eve, Funeral

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

2 thoughts on “Wisdom

  1. Bagus dan menarik sekaligus terharu. .

    Posted by Erit07 | December 29, 2012, 11:28 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: