//
you're reading...
All, Chapter IV - The Ending

Beijing


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Aku tertidur pulas di atas gerbong kereta tanpa atap, pancaran sinar matahari membangunkanku. Saat ini, ketika aku duduk, pemandangan telah berubah menjadi hamparan rumput yang luas, sekalipun masih sedikit tertutupi salju. Perjalanan yang panjang ini membawaku ke tempat paling asing di dunia. Jiwa dan ragaku menyatu, seolah bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya, benar, aku tidak sedang bermimpi. Ini adalah kenyataan.

Duduk disampingku, dia adalah Awei, sahabat pemberaniku. Dalam kisah ini Ia mengajarkanku bagaimana seorang anak harus berbakti pada orang tua. Ia juga mengajarkan bagaimana sikap dan tindakan seorang pria sejati itu. Ia adalah kebaikan yang ditawarkan oleh dunia ini, dan kita mungkin tidak menyadari bahwa keberadaannya terpencil jauh, dan tidak terjamah dari apa yang manusia banggakan.

Raut wajahnya selalu hangat, dan penuh kharisma. Sekalipun hal buruk yang menimpanya, ia tetap tegar, justru sebaliknya membuat dia semakin tangguh. Anak ini terlesut, dan Ia diharuskan bangkit seorang diri. Bukan karena aku tidak sanggup membantunya bangkit, namun karena Ia harus melawan keegoisan hatinya. Aku adalah seorang saksi, aku mengetahui bahwa hal ini bukan lagi kisah-kisah dongeng. Kekuatan manusia untuk bertahan hidup sangat menakjubkan.

Sebagaimana yang disepakati di awal, kami akan berangkat ke kota Beijing. Kereta yang kami naiki ini adalah kereta tumpangan. Dari samping rel di bawah kaki bukit, kami mengincar-ngincar bilamana ada kereta yang melintas dengan perlahan, dan pada momen yang tepat, kami akan menyelinap masuk ke atas gerbong kereta tanpa atap. Upaya cerdik ini adalah buah pemikiran dari Awei.

Tempat yang akan kami tuju, masih samar-samar bagiku, tapi tidak bagi Awei. Awei pernah tiga tahun menetap di Beijing, sewaktu ia bersekolah dahulu. Ia tinggal bersama seorang pedagang buah, sambil membantu si pedagang berjualan. Pedagang ini adalah sahabat almarhum Mr. Yo, Ayah Awei, dan kemungkinan kami akan kembali mengunjungi beliau, begitu yang ada dibenakku. Namun sepertinya bayanganku tentang kehidupan yang bersahabat telah sirna sejak kejadian dimana kami harus mati-matian berjuang bertahan di tengah amukan badai. Aku tidak berharap, sedikit pun tidak berharap untuk mendapatkan kehidupan yang menyenangkan. Usaha kami masih harus dihadapkan pada mental juang.

Sepanjang perjalanan terasa menyenangkan, namun sikap paranoidku semakin menjadi-jadi ketika memasuki kawasan hutan dekat pemukiman. Aku merasa seperti sedang diawasi. Berkali-kali aku melihat sesosok orang menaiki sepeda motor sedang melintas di samping rel. Barisan tentara menyusul kemudian, mereka berjalan beriring-iringan di antara pepohonan. Tank besar mengawal mereka dari belakang.

Pemandangan ini mengingatkanku pada suatu masa, namun masa-masa itu seperti telah terhapus dari ingatanku. Apakah dulunya aku adalah seorang perwira? Mungkin dengan berada di kota besar seperti Bejing aku akan mendapatkan jawabannya. Siapakah aku? Pertanyaan itu kembali menghantuiku.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

About The Twins, New Year

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: