//
you're reading...
All, Chapter IV - The Ending

About The Twins


POST ILLUSTRATION

POST ILLUSTRATION

Aku benci jika seorang yang merasa berkuasa memasuki ruanganku tanpa ijin. Konsentrasiku akan buyar, dan otakku yang bekerja dengan keras seketika dipaksa untuk berhenti. Pikiran-pikiran yang terkumpul itu kini pecah tercerai-berai. Dia yang masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu tak lain adalah atasanku, Pak Kumoro. Beliau sepertinya mendapat berita yang penting. Aku hanya memperhatikan dari balik meja, ketika ancang-ancang pembicaraan antara gerak tubuh dan suaranya dimulai.

“Sammy belum mati.” begitu judul headline pembahasan kami kali ini. Pak Kumoro menyebutnya dengan sangat yakin. Ia membawa laporan ditangannya, kemudian melemparkannya ke atas meja kerjaku. “Bacalah dengan seksama, genetik dari jasad yang ditemukan beberapa minggu yang lalu adalah palsu, sama seperti genetik milikmu.”

Aku merasa disinggung, begitu mudahnya dia menyebutku palsu, namun ketidaknyamanan itu berhasil kututupi dengan pertanyaan halus, “Jadi, dia juga hasil kloning?”

“Tepat sekali!” Pak Kumoro mengambil spidol dari sakunya lalu menghampiri papan tulis yang ada di dalam ruangan, Ia menggambarkan suatu skema.

Penjelasan singkat sudah bisa menjelaskan bahwa Sammy yang asli belum mati, namun Ia seolah bersikap berlebihan, dan harus menggambarkan logikanya di papan tulis. Sikapnya lagi-lagi menyinggungku. Apakah aku sangat bodoh?

“Tak perlu dijelaskan lagi, aku paham.” Desakan itu aku lontarkan dengan nada sedikit menggeram.

Pak Kumoro berhenti mencoret-coret papan tulis, lalu memperhatikanku kembali, “Oh ya? Kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti.” Namun dihatiku masih dongkol

Beralih ke peta, beliau kini menunjukkan suatu lokasi di dekat negara Rusia, Ia menyasar ke suatu tempat di daratan Cina, itu adalah Gansu. “Intelejen kita mengatakan bahwa Sammy terlihat beberapa hari yang lalu di dekat rel kereta, sepertinya mereka akan berangkat ke Beijing.”

Aku menimbang-nimbang, lalu bertanya, “Kenapa Ia pergi ke Beijing.”

Pak Kumoro tersenyum, “Entahlah, intelejen kita terus membuntutinya, laporan terakhir, ia sedang berkeliaran di pasar, bersama seorang anak laki-laki seumuran denganmu.”

Apa maksudnya semua ini?

“Aku tahu kamu kebingungan, Sal” Pak Kumoro menarik kesimpulan dari raut wajahku, namun begitulah yang sebenarnya, aku kebingungan. “Apapun yang terjadi pada Sammy, Ia sepertinya sudah lupa akan dirinya sendiri.”

Jawaban itu menyentakku, “Lupa akan diri? Maksudnya Amnesia?”

“Ya.” jawab Pak Kumoro singkat.

“Apa yang harus kita lakukan?” aku bertanya dengan nada serius, sambil bersandar, menggoyang-goyangkan kursi.

“Tidak ada, kecuali menunggu.”

Cuaca diluar sangat dingin, hujan seharian telah membuat udara lembab. Aku menatap kaca yang basah terkena air hujan. Aku berharap, lagi-lagi berharap bahwa keadaan ini tidak menjadi semakin rumit. Pak Kumoro hanya diam, lalu pergi meninggalkan ruangan, katanya, “Jangan terlalu memikirkannya, Sal”

Ucapan itu sama sekali tidak membantuku.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


RELATED POST :

Beijing, New Year

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

2 thoughts on “About The Twins

  1. pekerjaan menunggu itu bagi saya pekerjaan yang sangat membosankan gan….

    Posted by kangyaannn | December 30, 2012, 11:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: