//
you're reading...
All, Stranger

Sang Pengkhayal


Sang Pengkhayal

Sang Pengkhayal

Ruang perpustakaan itu selalu selalu sepi, dan hanya segelintir siswa yang gemar berkunjung ke perpustakaan pada jam istirahat. Salah satu dari siswa yang selalu memunculkan wajahnya di perpustakaan adalah dia yang duduk di pojokan paling belakang di dekat lemari katalog buku. Nama siswa itu, terlihat dari jahitan yang tertempel di bajunya, adalah bernama Ignatius. Ia adalah seorang pria yang berwajah tampan, sedikit gemuk, namun sangat pendek. Dari balik bahunya terlihat sebuah bacaan yang sedang dicermatinya, dari sebuah majalah lama, terbitan tahun 2000-an, membahas kepahlawanan dan sastra. Foto almarhum Pramoedya Ananta Toer yang berwarna hitam putih terpampang di sudut kanan atas halaman majalah.

Ignatius tampak serius dalam membaca, bahkan mungkin terlalu serius. Oleh karena pandangan matanya sudah sedikit kabur jika melihat dari jarak yang normal, maka bukan suatu pemandangan yang aneh jika kita melihatnya menatap halaman buku tersebut dalam jarak yang sangat dekat, sekitar 10 cm dari ujung batang hidungnya. Sekilas, anak ini seperti seorang yang kutu buku, berkarakter skeptik, dan culun. Tapi semua anggapan itu akan berbeda sepenuhnya jika kita mengenal siapa Ignatius sebenarnya.

Dalam pemikiran sederhana, pengetahuan telah memukau kesadarannya. Kita tidak dapat melihat sebuah panggung sandiwara yang ada di dalam pikirannya sedang memainkan sebuah lakon. Mereka berbicara padanya, selayaknya ia adalah seorang penonton dibangku teater. Ia sesekali tersenyum, mungkin menemukan kehangatan dalam imajinasinya, dan sesekali pun menangis, mungkin juga menemukan kepedihan yang hanya dapat ia rasakan sendiri. Namun sesungguhnya terlalu rumit, karena dalam otak manusia terdapat dunia kecil yang memiliki daya jangkau tiada batas. Apabila dimensi yang dijangkau terlalu jauh, maka ucapan dan pikiran orang tersebut sudah tidak dapat dipahami akal manusia yang baru memakai kapasitas otaknya yang sejengkal kuku.

Ketika mulai membaca, Ia telah membeli tiket kereta imajinasinya. Ia berjalan dengan sukacita, dan jendela di gerbong kereta tersebut adalah layar kehidupan baginya. Kenyataan kehidupan seolah hanya mendapat tempat yang kurang terhormat, yaitu sebagai bahan bakar kereta api agar dapat terus berjalan. Sesampainya pada perhentian selanjutnya, ia meninggalkan tanda pada tempat tersebut, yaitu halaman buku yang dibacanya. Jika pengalaman dapat dikemas dalam kata-kata, kemudian menjadikannya buku, maka  benarlah jiwa yang hidup pada masa seribu tahun sebelumnya dapat hadir dan berdiri dalam bayangan seorang anak muda seperti Ignatius.

Jam istirahat hanya 15 menit, dan tiba waktunya, bel akan berbunyi dua kali. Hanya diperlukan hentakan kecil; untuk membangunkan orang dari khayalannya. Ignatius segera mengemaskan buku-buku yang dibaca-nya kemudian beranjak dari perpustakaan dan kembali ke ruangan kelas untuk melanjutkan pelajaran di sekolah. Melewati serambi sekolah, Ia memegang buku-buku yang tebal di kedua tangannya, beberapa siswa tampak menertawakan gerak-gerik Ignatius. Beberapa diantaranya pun mulai mencemooh.

“Gila!!!! Tidak kalah dengan Einstein!” Sahut seorang siswa yang bergaya seperti berandalan, bajunya dikeluarkan, namanya adalah Boby, biasa dipanggil Bob. Ia sedang bersandar di dinding ruangan kelas yang berwarna krim.

“Mampus dah ketimpa buku!” seorang siswa lain yang berdiri di samping Boby, bernama Joan, juga ikut mencemooh. Suasana sempat riuh, namun ketika sejumlah guru mulai berdatangan memasuki serambi, gerombolan pencemooh itu mulai membubarkan diri.

Kejadian ini akan terpatri dengan sangat jelas dalam ingatan. Namun Ignatius yang pendiam itu hanya meletakkan cemoohan di bawah kakinya, seperti debu yang melayang diterpa angin. Masa depan adalah jawaban, apakah anak yang memiliki IQ tinggi ini akan mendapatkan tempat yang layak?


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Berantakan, Hujan, Misteri, Gang SempitHutang Budi, Yang Ada Di Pikiranmu, Kabut, Ayah Yang Terlalu Sibuk, Tempo DoeloeParanoid

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: