//
you're reading...
All, Stranger

Hujan


Hujan

Hujan

Bulan Januari, bulan yang dipenuhi guyuran hujan. Inspirasi akan datang dengan sangat halus dalam rintikan air hujan dan hembusan udara. Mengalirkan kata-kata dengan sangat indah. Salah satu rahasia penulis yang paling besar, mungkin, ketika mereka membiarkan diri mereka diguyur hujan, kemudian baru mulai menulis. Ignatius melakukan kegilaan ini dengan sangat antusias. Sekalipun terancam sakit keesokan harinya. Ia berdiri di sebuah taman kota yang sepi, sendirian.

Tidak. Ignatius tidak sendirian, seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan, bersembunyi di balik pepohonan, memegang sebuah payung berwarna pelangi, sangat mencolok. Dia adalah pria berusia sekitar 50 sampai 60 tahun. Tubuhnya sudah mulai terlihat renta, dengan dia berjalan tertatih-tatih mendekati Ignatius. Jarak antara dia dan Ignatius setidaknya 10 meter, namun Ignatius hanya membiarkan pria tua itu melintas, serta membiarkannya memainkan sebuah lakon drama.

Pria tua itu bernama Omar. Ia sekarang berdiri tepat di bawah pohon akasia. Seperti menunggu-nunggu dan juga gelisah, sambil terus memperhatikan sekeliling dan arloji tuanya. Saat ini, waktu telah berhasil mengembalikan sisa misteri ingatan itu. Dalam dunia imajinasi, inilah era 80-an akhir.

Adapun sosok lain datang dari balik pohon, juga memegang sebuah payung, namun kali ini payung tersebut berwarna hitam, dia adalah Kumoro Wisnu.

“Maaf, lama menunggu Pak Omar.” Kumoro segera berteduh di bawah pohon yang sama, dan menutup payung digunakannya.

“Tidak masalah. Apakah semua sudah sesuai rencana?” Tanya Omar, sedikit cemas.

“Sudah, Pak.” Jawab Kumoro singkat, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan, “Anak itu sudah dipindahkan dari tempat yang semestinya. Saya yakin polisi tidak akan pernah menemukan anak itu lagi.”

“Bagus ….. Bagus …..” Omar hanya mengangguk.

“Anak itu …..” Kumoro segera menambahkan, “Anak itu bernama Sammy.”

“Sammy? Bagaimana bisa?” Tanya Omar seperti keheranan, “Siapa yang memberikan nama itu?”

Dengan menarik nafas dalam-dalam, Kumoro menjawab, “Ayahnya, Gustave yang memberikannya.”

“Gustave? Apakah Gustave sempat bertemu denganmu?” Terlihat gelagat mencurigakan dari Kumoro, membuat Omar seperti merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Tidak.” Kumoro menatap Omar dengan tajam, “Ayahnya menulis wasiat kepadaku, dan sepertinya Ia tahu bahwa kita berencana membunuhnya.”

“Bagaimana dengan Istrinya, Ibu dari Sammy?” Omar membalas tatapan dari Kumoro, tak kalah tajam.

“Kami membuatnya hilang ingatan, dan membawanya ke Jerman. Ia sekarang jadi penjual bunga di tepi jalan.” Kumoro menjawab dengan menundukkan kepala, tidak berani menantang tatapan Omar lebih lama lagi.

Omar menggeleng-geleng, “Kalian terlalu jahat.”

“Kami tidak punya pilihan.” Jawab Kumoro singkat.

Sesaat setelah percakapan terakhir itu, hujan mulai mereda, dan secara bersamaan imajinasi Ignatius buyar. Ia segera berlari ke bawah pohon akasia tepat dimana percakapan Omar dan Kumoro dilakukan. Ia menulis dengan secapat kilat, berusaha mengumpulkan mosaik-mosaik pikirannya yang terpecah kesana kemari untuk dijadikan satu bagian utuh. Namun karena sulit berkonsentrasi, ia menghempaskan pensil yang dipegangnya ke atas rumput taman yang basah terkena hujan dan juga meremas-remas kertas yang dipegangnya hingga ronyok.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Sang Pengkhayal, Berantakan, Misteri, Gang SempitHutang Budi, Yang Ada Di Pikiranmu, Kabut, Ayah Yang Terlalu Sibuk, Tempo DoeloeParanoid

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

8 thoughts on “Hujan

  1. hmmmmmm………

    Posted by yisha | January 5, 2013, 9:31 am
  2. wh bener banget gan,,,, disini juga hujan terus hehe

    Posted by kangyaannn | January 5, 2013, 10:38 am
  3. Ujan berlebihan, bikin banjir…. Miris juga emang..

    Posted by Raf | January 24, 2013, 1:15 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: