//
you're reading...
All, Stranger

Misteri


Misteri

Misteri

Ada bagian yang hilang kemudian menjadi misteri. Misteri yang membuat penasaran, misteri yang ada di dalam pikiran, yang diburu dalam tulisan-tulisan. Mengerjar ketidakpastian, seperti yang di alami oleh Ignatius adalah sebuah permainan alur dalam menulis. Apa yang akan terjadi, sesuatu yang mungkin mengejutkan dirinya, sama sekali bukan sesuatu yang sistematis atau terencana sebelumnya.

Ia kembali membaca sebuah buku. Ia membolak-balik halaman tersebut dengan sangat cepat, seperti tidak sedang membaca. Ia mencari sesuatu. Mungkin berharap ada sesuatu dalam buku tersebut yang berbicara mengenai isi pikirannya. Dari kerumitan yang teramat sangat, ia menakar suatu inti dari khayalan dan kenyataan. Ia sesekali menulis di atas kertas, berupa kata-kata kunci yang membuat bulu kuduk sedikit merinding yang tidak jauh-jauh dari pesan aneh.

Kamar tertutup dengan rapat, sementara lampu di matikan. Hari telah beranjak siang. Seragam yang ia kenakan belum digantinya sejak pulang sekolah tadi. Tas yang berisi buku-buku pelajaran di sekolah ia hempaskan di atas tempat tidur, sehingga berserakan ke sana kemari.

Sebuah tembok tebal, membumbung tinggi, dan seketika tak terlihat oleh mata, membuat otak yang bekerja normal, menjadi tidak normal. Semua pemandangan yang aneh dan ekstrem ini hanya ada di dalam kepala Ignatius. Ia melihat sebuah tempat di mana tak seorang pun pernah mengunjungi-nya.

Maka waktu kembali berputar, pada masa dimana ia sendiri belum pernah dilahirkan. Tepat di sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu pembicaraan yang sangat rahasia.

Duduklah di sana, seseorang yang rambutnya di sisir ke belakang, usianya berkisar antara 30 tahun. Namanya adalah Gustave. Ia berhadapan dengan seorang yang duduk di belakang meja, dari penampilannya yang sangat formal dan rapi, disertai raut wajah yang serius dengan sedikit kumis di atas bibirnya; benarlah, dia adalah Kumoro Wisnu.

 “Apa yang intelejen perlukan dari-ku?” Gustave memulai pembicaraan dengan nada yang tidak enak di dengar.

Kumoro menatap Gustave dengan tajam, sangat tajam, lalu berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan, “Kami memerlukan tangan. Tangan yang dapat bertanggung jawab sendiri atas perbuatan yang dilakukannya.”

Gustave tersenyum jahat, “Jadi, intelejen adalah organisasi yang tidak berani bertanggung-jawab?”

“Bukan ….. begitu.” Jawab Kumoro singkat.

“Lalu apa?” Tanya Gustave lagi.

Sambil merilekskan posisi duduknya, Kumoro kembali menjelaskan, “Membunuh pihak luar, mudah bagi kami, tapi yang akan kami bunuh adalah pihak dalam. Kami akan sangat sulit menjeratnya ke dalam penjara, maka kami putuskan untuk menghabisinya.”

“Dan oleh karena itu, kalian berpikir dapat menyewa pembunuh bayaran sepertiku untuk menghabisinya?” Gustave seperti tahu apa yang ada di pikiran lawan bicaranya.

“Tepat sekali.” Kumoro dengan cepat segera menanggapi, “Kami akan menawarkan pembersihan nama baik padamu, dan namamu akan kami hapuskan sebagai pelaku kriminal, jika anda bersedia melakukan apa yang kami inginkan.”

“Hanya itu?” Gustave seperti tidak merasa puas.

“Uang sejumlah lima juta rupiah akan masuk dalam saku-mu dan kami bayar cash.” Kumoro mengambil sebuah tas dari bawah kursinya dan segera meletakkannya di atas meja. “Bawa ini.”

Gustave menimbang-nimbang. Ia berpikir sejenak, “Ada satu hal lagi yang aku minta.”

“Apa itu?” Kumoro memperbaiki posisi duduknya, lalu melipatkan kedua tangan di dadanya, berusaha mendengar dengan seksama.

“Aku ingin ……”

TOK!TOK!TOK!

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu diketuk. Ignatius tersadar dari lamunan-nya. Ia melihat bahwa buku yang ia pegang sudah dipenuhi dengan coretan-coretan, yaitu kata-kata kunci yang dia butuhkan.

TOK!TOK!TOK!

“Ignatius …..” Terdengar suara perempuan dari luar kamar, tepatnya dibalik pintu yang terkunci, “Kamu tidak apa-apa, nak?”

“Tidak mah, Ignatius tidak apa-apa.”

“Sudah sore, kamu tidak ikut ekstra Jurnalistik?” tanya perempuan itu lagi dari balik pintu, yang tak lain adalah Ibu Ignatius.

Ignatius menoleh ke arah jam, dan melihat bahwa Ia hampir terlambat. Dengan tergopo-gopo, Ia segera meloncat dari posisi duduknya, lalu merapikan diri.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Sang PengkhayalBerantakan, Hujan, Gang SempitHutang Budi, Yang Ada Di Pikiranmu, Kabut, Ayah Yang Terlalu Sibuk, Tempo DoeloeParanoid

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

13 thoughts on “Misteri

  1. hm, kaka menggebu menulis ini……….

    Posted by yisha | January 8, 2013, 8:53 am
  2. mana kelanjutannyaaa?? penonton kecewa 😦

    Posted by lea | January 10, 2013, 8:51 am
  3. Sebagian orang mencandu hal-hal misteri. Seperti diriku juga… 🙂

    Posted by Zizy Damanik | January 10, 2013, 3:11 pm
  4. di tunggu lanjutanya gan…

    Posted by kangyaannn | January 10, 2013, 9:10 pm
  5. keren mas 🙂

    Posted by setokdel | January 12, 2013, 7:19 am
  6. Misteri itu, suatu rahasia yang belum terungkap.

    Posted by Wisata Murah | January 21, 2013, 3:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: