//
you're reading...
All, Stranger

Kabut


Kabut

Kabut

Secara sederhana, kita tidak akan bisa memahami sebuah kerumitan untuk menemukan sesuatu yang sederhana. Kerumitan itu sebenarnya adalah sebuah perjalanan panjang yang terasingkan, kita tidak tahu jalan yang pintas ataupun menjauh. Hal-hal inilah yang sering kita temui, apabila kita dengan sangat giat-nya berusaha mencari jalan pemecahan. Ignatius sudah berpikir dengan sangat keras, bahkan oleh karena pikiran-nya yang sudah melampaui batas rasio, menyebabkan tingkah-nya semakin aneh. Ia sering melamun sendirian di bawah pohon akasia di halaman sekolah. Ia duduk di atas kursi kayu tua, yang warnanya mulai memudar.

Tentu kita sedang berurusahan dengan pemikiran kompleks, tentang logika, sebuah peristiwa yang berhubungan satu sama lain. Apabila informasi yang masuk terlalu banyak dalam hitungan detik, maka orang tersebut sudah mendekati ambang stress. Namun tidak bagi Ignatius, Ia tidak stress, hanya saja tingkahnya yang tidak bisa ditangkap oleh akal sehat. Bagaimana mungkin seorang dapat melamun sangat lama, tanpa ada sedikit pun gerakan. Ia seperti mematung, jiwanya melayang entah kemana. Tatapan matanya kosong.

Berada di seberang dimensi yang lain, yang hanya ada di kepala Ignatius, kita bisa melihat halaman sekolah tersebut telah berubah menjadi sebuah tempat yang dipenuhi dengan makam orang mati. Tempat ini adalah pekuburan tua, dan di tutupi oleh kabut yang tebal. Arwah-arwah seperti bergentayangan di tempat tersebut, namun sepertinya diperlukan mata ke-tiga untuk melihat keberadaan makhluk gaib tersebut. Tapi apakah semua-nya itu memang nyata? Tidak ada satu orang pun yang tahu.

Pada saat ini, dua orang sedang berdiri di atas salah satu makam tua tersebut. Salah satu-nya yang tidak asing lagi adalah Kumoro Wisnu. Dari sisi makam yang lain, kita dapat melihat seorang pria yang berambut keriting dan berkulit hitam, nama pria tersebut adalah Josef. Josef adalah seorang penjaga makam. Ia dapat menunjukkan letak makam tertentu apabila ditanyai. Makam tersebut, memiliki nisan, tapi tidak bertuliskan nama. Jadi siapakah sebenarnya yang terkubur tepat di bawah makam tersebut. Apakah begitu penting?

Menyusul dari kejauhan, datanglah Profesor Widarso, menghampiri posisi di mana Kumoro dan Josef berdiri. Beliau membawa sejumlah orang yang membawa tas perlengkapan, total jumlah mereka adalah tiga.   Mereka berbaju serba putih, sepertinya adalah tim dokter.

Kumoro menyapa Profesor Widarso yang sudah mendekat., “Why it takes long time?”

“I’m sorry, kid. I have to prepare some permission.” jawab Profesor Widarso sambil membongkar peralatan dari dalam tas-nya.

“So, we want to start digging up?” tanya Josef, memegang pacul, dan mengelus-elus nisan di atas makam.

“Don’t we need God permission too?” tanya Kumoro, sedikit bercanda, namun candaan-nya tidak membuang seorang pun tertawa, sebab menggali makam seseorang bukanlah lelucon.

Udara sedikit lembab, tanah menjadi basah. Saat ini mereka berada di Inggris, bermaksud menyelidiki misteri kematian seseorang. Dan seseorang yang dimaksudkan pada saat ini berada di bawah makam tersebut. Siapakah dia? Baik siapapun belum mengetahui secara pasti, namun yang diharapkan adalah mereka menemukan suatu jawaban lain. Jawaban yang akan membawa mereka pada tindakan selanjutnya.

Selang setengah jam kemudian, mereka menemukan sebuah peti mati di dasar makam. Untuk sesaat mereka saling memperhatikan satu sama lain, mungkin saling bertanya-tanya. Siapa yang akan turun dan membantu mengangkatnya? Serentak, semua mata tertuju pada Josef. Merasa tertunjuk, Josef-pun bereaksi, “Allright. I’m going down.”

Peti mati tersebut berhasil diangkat, namun terasa aneh, karena peti mati tersebut berbunyi selayaknya tanpa isi dan tidak menimbulkan bau. Dan ketika dibuka seluruhnya, peti mati itu ternyata kosong.

“What the …..” Kumoro dengan cepat bereaksi, mungkin sedikit terkejut dengan penemuan-nya.

Berbeda dengan Profesor Widarso, beliau hanya bersikap tenang sambil mengatakan, “Yes, it’s true Slincair had never been dead.”

Kabut yang menutupi makam tersebut mendadak hilang, berubah kembali menjadi halaman sekolah yang berwarna hijau dengan udara yang sangat cerah. Perubahan ini, perubahan yang drastis, namun imajinasi secara totalitas memainkan peranan-nya. Ignatius menggerakkan matanya, tubuhnya, kemudian tangan-nya. Ia mulai menulis lagi.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Sang PengkhayalBerantakanHujanMisteriGang SempitHutang Budi, Yang Ada Di Pikiranmu, Ayah Yang Terlalu Sibuk, Tempo DoeloeParanoid

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

2 thoughts on “Kabut

  1. Sesuatu yang kelihatan sederhana belum tentu mudah..
    Sesuatu yang kelihatan komplek belum tentu rumit…
    Sepertinya saya koment yang pertama ini…

    Posted by Admin Penulis opini | January 21, 2013, 10:20 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: