//
you're reading...
All, Stranger

Tempo Doeloe


Tempo Doeloe

Tempo Doeloe

Sebuah album foto klasik, ditemukan oleh Ignatius di dalam gudang. Akhir 70-an sampai awal 80-an terekam dengan jelas dalam album foto tersebut. Adapun pakaian mereka, celana kain yang ketat, dan para pria-nya sangat rapi dalam berbusana, sementara para wanita-nya memakai gaun yang lebar. Mata Ignatius berbinar-binar melihat foto dalam album tersebut, dalam sekejap saja imajinasinya sudah sanggup menangkap mosaik pengetahuan yang tersimpan di dalam foto tersebut. Roh di dalam tubuhnya seperti keluar dan tenggelam ke dalam foto tersebut, meninggalkan keberadaan-nya di dunia nyata.

Awan-awan berubah menjadi tebal, udara menjadi jauh lebih segar. Pepohonan yang hijau menghiasi sekeliling jalan, jalan yang tidak beraspal. Terdengar kicauan burung dari pohon-pohon tersebut, sahut menyahut. Matahari yang bersinar pun terasa hangat, dan tidak menyengat kulit. Alam sangat bersahabat, dan manusia masih bersahabat dengan alam. Hari-hari yang telah berlalu itu, kini datang kembali.

Seorang pria sedang berjalan di sekitar deretan perumahan sambil membawa sebuah tas berwarna hitam. Orang ini tampak sangat mencurigakan, dan seekor anjing penjaga rumah bereaksi sesaat, lalu didiamkan oleh majikannya. Sang penjaga rumah hanya melemparkan senyum kepada pria tersebut, mungkin merasa bahwa anjingnya telah bersikap tidak sopan. “Maaf, Pak.”

Pria tersebut hanya balas tersenyum.

Usia pria ini berkisar antara 30 sampai 40 tahun. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya cukup jauh, dan akhirnya singgah pada satu rumah yang sangat kecil di antara rumah-rumah yang berdiri di samping kiri dan kanannya.  Halamannya cukup luas, namun sangat tidak terawat. Sebuah mobil sedan Ford terparkir di dekat pagar. Ia mengangkat teleponnya, menekan beberapa tombol, lalu berbicara dengan seseorang melalui perangkat tersebut, “It’s Widarso. My Code is 442”

“Ok, Widarso. Code 442, you can get in.” suara serak tersebut berbicara dalam frekuensi yang naik turun, membuatnya sangat tidak enak untuk didengar, namun pesannya cukup jelas, ‘you can get in.’

Nama pria tersebut sesuai yang diakuinya adalah Widarso. Ia segera masuk ke dalam mobil sedan Ford tersebut, lalu mengambil posisi duduk yang nyaman. Tiba-tiba saja mobil tersebut berjalan dengan sendirinya, tanpa harus dikemudi. Sepertinya dikendalikan oleh orang lain dalam jarak yang jauh.

Mobil tersebut membawanya ke sebuah tempat yang berbeda, dan kembali pada deretan rumah sebelumnya. Terlihat sebuah bangunan rumah yang berlantai dua, dengan desain yang sangat mewah. Seorang satpam menunggui halaman depan rumah tersebut. Ia sudah mengincar, jika ada mobil sedan Ford yang melintas. Pintu pagar dibukakan, dan Ia menyambut Widarso dengan ramah, “Welcome, sir. This is our secret base, please enter your code to the door panel on the wall.”

“Thank You.” Widarso segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah panel pintu yang ditunjuk oleh si satpam. Ia memasukkan kode yang disebutkan sebelumnya lewat pembicaraan telepon, yaitu 442.

Terdengar suara pintu dibuka dari samping panel pintu. Widarso memasuki pintu tersebut, dan melihat ke dalam, sebuah pemandangan yang tidak selayaknya sebuah rumah mewah seperti yang terlihat dari luar. Isinya adalah peralatan-peralatan canggih dan alat komunkasi yang sangat banyak.

Seseorang yang lain menyambut Widarso dari balik pintu, ‘Welcome, Sir. My Name is Frank. I’m the head of this base. What can I help you?”

Widarso mengangguk lalu menjelaskan maksud kedatangannya, “I’m Widarso, the assisten of Indonesian intelligence lab. I want to see the kids, who is captured in the night of Gustave murdered.”

Frank tersenyum, menoleh ke arah lift, lalu mengajak Widarso untuk ikut bersamanya, “Okay, He is in the basement room. Follow me.”

Melewati meja-meja yang dipenuhi dengan komputer, beserta operatornya, mereka memasuki lift. Terdengar bunyi lift pada umumnya, dan Frank menekan tombol B1. Menanti-nanti sesaat, kemudian terlihatlah sebuah ruangan bertembok putih dengan banyak ruangan di kiri dan kanannya. Seperti sebuah bilik-bilik. Frank segera berjalan, dan dengan sopan, mengisyaratkan supaya Widarso mengikutinya dari belakang. “Here, Sir!”

Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan lain dari balik pintu-pintu tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah pembaringan yang dipenuhi dengan kabel-kabel. Seorang bocah kecil berumur 6 tahun terbaring di atas pembaringan tersebut.

“Are you try to modify his memories.” tanya Widarso perlahan, seakan tahu apa yang sedang dialami bocah tersebut di atas pembaringan, yang tak lain adalah Sammy.

“Yes, sir.” jawab Frank singkat, mulai menyalakan sebuah mesin dan komputer, kemudian mematikan lampu ruangan. Maka terlihatlah sebuah pertunjukan layaknya di bioskop, dengan di pantulkann ke dinding, ingatan yang dimasukkan ke dalam otak Sammy dapat menjadi tontonan.

“Good setting.” puji Widarso, “So, how’s the deal. Kumoro have told you about the deal?” tanya-nya lagi.

Frank mengangguk, seakan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Widarso, “Of course, you can take this son with you, but remember to put him on the right place. He is the son of muderer.”

“Yes …. Yes ….” jawab Widarso cepat, lalu kembali mengangkat teleponnya, “Can I get signal down here?”

“No, sir.” jawab Frank singkat sambil tersenyum, “You’ll have to go outside this building.”

Widarso memperhatikan sekeliling ruangan dan akhirnya memperhatikan pintu keluar, “Oh …. then I should go now.”

“Please, sir.” Frank berjalan membukakan pintu dengan anggun.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Sang PengkhayalBerantakanHujanMisteriGang SempitHutang BudiYang Ada Di PikiranmuKabut, Ayah Yang Terlalu Sibuk, Paranoid

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

5 thoughts on “Tempo Doeloe

  1. Semoga cerita ini bisa dibukukan dalam novel barangkali?

    Posted by Arumsekartaji | January 28, 2013, 6:09 am
  2. Baca postingan ini kok jadi keingat salah satu novelnya Stephen King yang saya baca.

    Tulis novel aja bro.

    Posted by pelancongnekad | February 2, 2013, 9:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: