//
you're reading...
All, Death Magnetic

Kemarahan

Kemarahan

Kemarahan

Hari itu langit akan cerah apabila yang melihat hari tersebut sebagai hari yang sangat berarti. Seseorang pemuda berusia sekitar 25 tahun sedang duduk disebuah kursi kayu tua disebuah taman yang menjadi tempat diselenggarakannya pesta pernikahan. Pemuda itu penampilannya cukup berantakan, hanya saja sebuah setelan jas berwarna hitam dipadu dengan celana panjang berwarna hitam, serta dasi dan kemeja yang rapi mampu menutupi ketidakpedulian dirinya atas penampilan. Terkesan asal-asalan, begitulah kira-kira penampilan pemuda itu. Namanya adalah Gustave dan saat ini, bagi dirinya, langit tidak secerah anggapan orang lain. Ia melihat kesepian dirinya yang teramat sangat ditengah keramaian ini. Sambil menggenggam kedua tangannya, menelungkup gelisah di atas pangkuan.

Apa yang menyiksa hati seorang manusia apabila sebuah kenyataan akhirnya terjadi dihadapan matanya, memberitahu ke dalam hati dan menyadarkan otak di dalam kepala, bahwa kepercayaan yang selama ini ditanamkan hanyalah sebuah imajinasi. Semua itu, semua hal yang akan sangat menjatuhkan. Seberapa percaya pun diri ini pada kesempatan selanjutnya namun merajut ulang mimpi seperti merajut kembali jati diri. Pernah mendengar ucapan belahan jiwa pada seseorang yang dicintai, maka ini, pada dasarnya adalah perkara belahan jiwa.

Pernikahan Slincair dan Helena telah membuat Gustave terbangun. Ia melihat sepasang kekasih itu berbahagia di atas podium yang tinggi. Ia berusaha setidaknya untuk ikut berbahagia, namun perasaannya campur aduk. Pilihan yang paling tepat bagi perasaan yang tak menentu adalah diam, tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun. Tapi sesuatu yang semestinya Ia lakukan sebagai seorang sahabat baik dari mempelai pria bernama Slincair adalah mengucapkan selamat, dan terutama pada seseorang yang teramat Ia cintai, yaitu Helena sang mempelai wanita.

Momen yang dipersiapkannya itu harus dilakukan dengan sangat santun atau setidaknya berusaha mengatakan bahwa dia berbahagia bahwa akhirnya sahabat terbaiknya menikah, dan betapa sedihnya juga Ia mengetahui bahwa wanita yang sangat Ia cintai telah dinikahi oleh sahabat terbaiknya. Akan tetapi semua itu harus dilakukan tanpa perasaan marah, sekalipun di dalam hatinya sangat marah.

Tiba waktunya dimana kaki Gustave bergerak. Ia berdiri dengan tegap, gagah dan mulai berjalan dengan perlahan, melewati meja-meja resepsi pernikahan, mengacuhkan keramaian yang menghimpitnya dan berjalan mendekati pasangan kekasih tersebut. Sempat merasa gugup bercampur perasaan marah, Gustave akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Slincair, sementara Slincair masih menoleh ke arah yang lain,

“Slincair ….” sapa gustave.

Slincair menoleh diikuiti Helena yang juga dari tadi menoleh ke arah yang lain. Serentak Gustave merasakan sebuah makhluk buas dihatinya sedang meraung-raung galak, namun tetap dengan keras hati, Ia harus bersikap tenang.

“Congratulation my friend …..” kata Gustave lagi, sambil menjulurkan tangan kanannya hendak memberikan salam.

Slincair tersenyum lalu, menyambut tangan Gustave dengan hangat, “Thanks, My friend.”

Dan selanjutnya Gustave memberikan salam yang lain kepada Helena. Saat itu, kemarahan di hati Gustave mulai memuncak, namun dengan tenang Ia segera pamit dan berkata, “Goodbye, I have to go now ….. Goodbye.”

Seperginya dari tempat tersebut Ia membanting apapun yang Ia temukan menghalangi jalannya. Gustave benar-benar naik pitam, dan kekacauan yang terjadi dihatinya benar-benar Ia nikmati. Sejak hari itu Gustave menjadi sangat jahat dan memilih kematian sebagai jalan hidupnya.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Magnet Kematian, Skema, Membasuh dan Mengangkat, Kembali Pulang, Pecinan, Tidak Masuk AkalKehidupan Yang Lebih Baik, Dunia Yang Berbeda

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

6 thoughts on “Kemarahan

  1. serem membayangkan apa jadinya si Gustave

    Posted by danirachmat | February 13, 2013, 10:38 am
  2. Wajar jika Gustave sakit hati melihat orang yang dia cintai menikah dgn sahabatnya,
    tapi seharusnya Gustave bisa merelakan dan tidak menjadi jahat,,

    Posted by Mita Alakadarnya | February 13, 2013, 12:29 pm
  3. Kasian juga si Gustave heheee

    Posted by Bastian Arisandi (@BastianArisand) | February 14, 2013, 8:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: