//
you're reading...
All, Death Magnetic

Membasuh dan Mengangkat


Membasuh dan Mengangkat

Membasuh dan Mengangkat

Dokter Adi mengerti dengan sungguh-sungguh bahwa di dalam alam pikiran Ignatius terdapat sebuah dunia yang hanya dapat dijelajahi melalui tulisan-tulisannya. Tidak ada seorang pun yang dapat pergi tanpa sebuah kereta yang disediakan oleh tuan tanah. Namun sebuah jejak yang ditinggalkan di berbagai tempat oleh Ignatius dapat membantu seorang seperti Dokter Adi menemukan portal menuju dunia tersebut. Ia memasukinya tanpa ijin, dan kereta itu dibajaknya, sehingga yang akan terjadi adalah sebuah tabrakan logika seorang manusia dengan pikiran sehat dan yang tidak sehat. Hal-hal yang mengerikan, mungkin akan ditemukannya dalam perjalan yang jauh tersebut, namun semua ini dilakukan demi mengembalikan kewarasan seorang anak muda bernama Ignatius.

Dari sebuah buku yang digengamnya, yang tak lain adalah catatan Ignatius, maka terdapat tempat-tempat yang menjadi petunjuk tentang keberadaan sebuah peristiwa yang dituliskan di dalamnya. Tempat-tempat tersebut sangat asing, namun beberapa dari tempat tersebut memakai portal yang sama untuk menembus dimensi dan waktu. Tujuan awal yang dijejaki oleh Dokter Adi adalah sebuah kompleks perumahan tua di sebelah barat kota, tempat dimana sebuah pantai memanjang ditepian daratan. Seperti biasa apabila menjelang petang, matahari akan terbenam dengan sangat indah dari balik pepohonan yang menjulang tinggi di seberang pantai.

Membolak-balikkan buku dari awal ke tengah, dari tengah ke awal, bahkan dari belakang ke awal adalah yang sejak beberapa hari yang lalu dilakukan oleh Dokter Adi. Ia menemukan sebuah susunan yang berantakan namun masih memiliki kaitan satu sama lain, dan karena hal ini seperti sebuah teka-teki, nalar kedokteran Dokter Adi seperti tertantang, Ia penasaran, apa saja yang ada dipikiran orang-orang tidak waras itu. Maka terjadilah, dan kabut itu menyusupi tempat dimana seorang dokter muda itu melangkah, membawanya dalam khayalan yang abadi. Ia tidak menyadarinya ketika sebuah tarikan yang sangat kuat telah menggenggam jiwanya.

Muncullah sesosok bayangan hitam dari balik kabut. Sosok tersebut mengambil langkah yang sempoyongan, melintasi pepohonan, menembus sebuah jalan menuju tempat yang sedikit temaram. Senja memberikan kesan bahwa hari itu adalah hari paling pesimis dalam kehidupan sosok tersebut. Jari-jemari dikepalnya erat-erat dan sorotan mata yang sangat tajam tertuju pada sebuah pintu kayu yang rapuh. Ketika mendorongnya pada sisi yang lain, pintu tersebut berbunyi derit yang sangat mengerikan. Sebuah rumah peninggalan perang sangatlah tidak nyaman apabila dikunjungi dan akan memberikan kesan bahwa tempat tersebut tidak boleh digugat.

Terdapat sosok lain dari dalam rumah tersebut. Sosok tersebut terlihat sangat renta dan sudah mulai menua. Suaranya serak dan lemah, namun Ia masih bisa terkekeh melihat orang lain memasuki rumah tuanya.

“Hai, anak muda.” Sapa kakek tua itu.

Sosok tersebut hanya berdiam diri terpaku dan berusaha memperhatikan dengan seksama hal-hal yang akan dilakukannya kemudian. Suasana hening sejenak.

“Apa yang kamu lakukan disitu, duduklah, Gustave …..” kakek tua itu berbicara lagi, dan terkuak bahwa sosok itu adalah seorang Gustave.

Serentak setelah mendengar perkataan itu, Gustave bergegas berlutut dan bersujud dihadapan kakek tua itu. Ia menangis, meraung-raung sambil mengucapkan permohonan maaf pada kakek tua itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah Gustave kembali pada seseorang yang telah memperingatkannya mengenai kehidupan yang akan dijalaninya, tentang bagaimana pada akhirnya Ia akan dikhianati. Laki-laki tua tersebut adalah mengenai kehidupan yang lalu, dan adalah orang yang paling berjasa dalam membesarkan Gustave sebagaimana adanya dia sekarang.

“Kau dan aku …..” kata laki-laki tua itu lagi, “adalah sama-sama memiliki dendam pada kehidupan ini.”

Gustave mengangkat kepalanya dari atas lantai kayu yang kotor, “Aku berjanji ….. aku berjanji ….. aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan.”

Laki-laki tua itu menghela nafasnya, “Apakah kau sudah siap?”

Merasa kebingungan, Gustave diam untuk sesaat, namun sekali lagi kakek tua itu bertanya, “Apakah kau sudah siap?”

“Siap?” tanya Gustave.

“Aku akan membasuh dan mengangkatmu kembali, kau sudah siap?” jawab laki-laki tua itu dengan tenang.

Gustave mengangguk, lalu kemudian, dengan tiba-tiba Ia disirami dengan seember air yang datang dari arah yang tidak terlihat. Tubuhnya basah kuyup, namun Ia sama sekali tidak marah. Hal ini sudah pernah dialaminya dahulu sekali, pada waktu itu Ia juga disiram dengan seember air. Ini adalah tanda pengangkatan, sekaligus berusaha membangunkan seseorang.

“Mulai sekarang, kau adalah Gustave yang baru, dan hal pertama yang akan kau lakukan adalah membalaskan dendamku dan dendammu.” Laki-laki tua tersebut kemudian tertawa terkekeh-kekeh.

Waktu pun berakhir pada masa itu, Gustave tidak akan pernah kembali lagi.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Magnet KematianSkema, Kemarahan, Kembali Pulang, Pecinan, Tidak Masuk AkalKehidupan Yang Lebih Baik, Dunia Yang Berbeda

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

9 thoughts on “Membasuh dan Mengangkat

  1. jadi, ………….

    Posted by yisha | February 16, 2013, 9:01 am
  2. ijin menyimak gan…mantab ceritanya 🙂

    Posted by mekanik komputer | February 16, 2013, 11:37 am
  3. apa kabar gan…..?
    belum sempet baca ne hehe jadi lom bisa komen, maaf…

    Posted by kangyaannn | February 17, 2013, 12:27 am
  4. Cerpen yang sangat pendek bro hehehe

    Posted by Max Manroe | February 20, 2013, 4:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: