//
you're reading...
All, Death Magnetic

Tidak Masuk Akal


Tidak Masuk Akal

Tidak Masuk Akal

“Cerita yang menarik, tapi tidak masuk akal.” demikian akhirnya Dokter Adi menutup lembaran halaman dari buku yang dibacanya, masih berlokasi disekitar perumahan tua di dekat pesisir pantai. Hari itu sudah mendekati malam, dan gelapnya hari menghantui rasa takut yang teramat sangat. Tempat ini bukanlah tempat yang cukup baik untuk berpikir, maka diputuskan untuk segera pergi dari tempat yang tidak bersahabat ini.

Dokter Adi semakin yakin bahwa ada kesalahan yang terjadi pada diri Ignatius, tapi apa yang digambarkan oleh seorang anak remaja ini sangat kompleks dan sempat membuat beliau percaya. Kadang-kadang memang imajinasi itu menyenangkan, tapi imajinasi tetaplah imajinasi, dia tidak pernah ada, apalagi menyangkut kehidupan orang lain. Dokter Adi memutuskan untuk memvonis Ignatius dalam penyakitnya sebagai penderita halusinasi tingkat akut dan berharap dapat membawanya segera ke pusat rehabilitasi untuk ditangani dengan cara yang tepat.

Sepulangnya ke rumah, Dokter yang masih hidup melajang ini, menemukan bahwa pikirannya terus-menerus dihantui rasa penasaran mengenai kelanjutan kisah yang beberapa saat yang lalu sempat dibacanya. Sekalipun sesungguhnya logika warasnya mengatakan bahwa semua yang dibacanya sungguh tidak masuk diakal. Dengan sebuah pertentangan, Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke meja kerjanya, dan membuatkan dirinya sendiri secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk dan lelah. Kopi itu memberikan efek, maka terjadilah lagi, sebuah perjalanan melintasi dimensi dan waktu, berselimut kabut, menghilangkan keberadaan seseorang sesaat di dunia ini.

Waktu yang telah berlalu, bahkan sejak dari awal waktu itu telah berlalu. Berada di kawasan pemukiman kota Jakarta, Dokter Adi menemukan sesosok pria bertubuh tinggi dengan kumis halus yang tumbuh disekitar bibirnya. Ia sepertinya adalah seorang yang masih memiliki keterkaitan dengan beberapa kejadian yang ditulis. Namanya adalah Kumoro Wisnu. Kumoro Wisnu adalah intelejen di Indonesia yang masih muda pada waktu itu, Ia berjalan beriringan dengan seorang laki-laki bernama Slincair di sekitar halaman perumahan, keluar menuju jalan raya. Pada masa itu tidak semua orang bisa memiliki mobil, maka jumlahnya di jalan tidak sebanyak yang selalu dapat kita bayangkan pada masa kini. Mereka bercakap-cakap mengenai banyak hal, salah satu hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan adalah mengenai Aleksei.

“Selamat atas pernikahanmu, Slin.” Kumoro mengulurkan tangannya lalu menyalami Slincair.

Slincair merasa bahwa sudah banyak salaman yang diterimanya beberapa hari yang lalu pada saat pesta pernikahan, termasuk dari Kumoro sendiri, maka ini hanya akan menjadi basa-basi. Namun Slincair hanya tersenyum, menyambut salam itu dengan tangan kanannya.

“Tahukah kamu, Slin.” Kumoro melanjutkan percakapan, “Bahwa musuh paling berbahaya adalah ……”

“Sahabat Kita.” Slincair langsung menjawab, Kumoro terdiam, namun sekali lagi Slincair menjawab dengan sangat jelas, “Ya, Sahabat Kita. Musuh paling berbahaya adalah sahabat kita sendiri.”

Ada nada kecewa dalam ucapan Slincair tersebut, mungkin dia sudah tahu bahwa beberapa sahabatnya bukanlah sahabatnya lagi.

“Slin, aku tahu, ini tidak mudah, tapi belakangan aku curiga pada Aleksei. Dia berpergian ke Rusia, dan beberapa intelejen kita di Cina juga melihatnya di Beijing.” Kumoro memberikan informasi ini dengan perasaan was-was.

Senyum itu, Slincair hanya tersenyum pasrah, “Aku juga tahu bahwa Aleksei cemburu pada karirku, sementara musuh yang lain datang setelah pernikahanku, dia adalah Gustave. Mereka berdua akan kembali disini dalam kecemburuan untuk menghabisiku.”

“Adakah sesuatu yang kau ingin kami lakukan, Slin.” Tanya Kumoro tenang.

“Ada. Jaga rahasia ini dan jangan biarkan konflik melibatkan lebih banyak orang. Ini hanyalah urusan pribadiku dengan mereka berdua. Dan benar jika akhirnya aku mati, aku minta supaya kalian bersikap profesional.”

“Tapi, Aleksei adalah intelejen Indonesia, sama seperti kita.” Kumoro berusaha membela argumentasi.

“Jika Aleksei melanggar sumpahnya sebagai seorang intelejen, maka sudah menjadi wewenang lembaga untuk segera membekukannya, dan bukan kita.” Dengan bijaksana Slincair menjawab argumentasi tersebut.

Kumoro terdiam, sekaligus terkesima, benar bahwa Slincair adalah aset unggul yang telah dimiliki oleh Negara, namun kadang sebuah keunggulan dapat membuat beberapa pihak merasa cemburu, dan pada akhirnya berbuntut pada sikap saling membenci.

Apakah ini masuk akal? Ya, ini masuk akal.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Magnet KematianSkemaKemarahanMembasuh dan MengangkatKembali PulangPecinan, Kehidupan Yang Lebih Baik, Dunia Yang Berbeda

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

6 thoughts on “Tidak Masuk Akal

  1. makin pengin bacaaaaa…………

    Posted by yisha | February 28, 2013, 8:55 am
  2. tidak masuk akal…aku bacanya terus terang bingung mas 🙂

    Posted by Larasati | February 28, 2013, 6:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: