//
you're reading...
All, Time Machine

Pertemuan Rahasia


Pertemuan Rahasia

Pertemuan Rahasia

Ruangan kepala sekolah itu selalu nyaman, tempat yang di dekorasi sedemikian rupa untuk membuat setiap orang yang memasukinya merasa nyaman. Bau jeruk tercium dengan sangat menyengat dari pengharum ruangan yang ditiup oleh Air Conditioner. Pak Mulyono sang kepala sekolah memang menyukai bau jeruk dan menikmati setiap bau yang tercium, menyegarkan nafas-nya. Beberapa tumpukan buku dan kertas tersusun rapi dan terutama seseorang yang duduk dibalik meja tersebut sedang membaca sebuah koran yang diantarkan sehari yang lalu. Satu yang masih baru belum sempat dibacanya. Maklum beliau kadang terlalu sibuk untuk membaca, dan kali ini hanya karena sedang menunggu sebuah pertemuan penting dengan seorang dokter kejiwaan, maka Ia menyempatkan diri untuk membaca.

Dokter Adi, seorang dokter kejiwaan yang beberapa waktu yang lalu mendapatkan pasien siswa sekolah bernama Ignatius mendapatkan panggilan dari kepala sekolah untuk menjelaskan beberapa hal yang menimpa sang anak didik. Sudah tiga minggu sejak kejadian yang menimpa Ignatius dirumah-nya maka saat ini mungkin sudah terkumpul banyak data dan bukti untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Ignatius. Mengenai Dokter Adi sendiri beliau dikabarkan akan datang dengan seorang pakar intelejen yang akan menerangkan beberapa hal yang akan sulit dipercaya namun benar adanya. Maka peran seorang pakar intelejen adalah meyakinkan hal-hal yang diluar kemampuan Dokter Adi untuk meyakinkan.

Tepat pukul 10 pagi pertemuan akan dilaksanakan, dan sekitar 5 menit lagi menuju waktu yang telah ditetapkan. Pada pukul 9.58, pintu ruang kepala sekolah diketuk dengan halus. Pak Mulyono menyingkirkan koran dari hadapannya, dan melipat-nya  serta meletakkannya di bawah laci. Setelah mengambil ancang-ancang Pak Mulyono mengijinkan sang pengetok pintu untuk masuk, “Masuk …..” katanya dengan suara yang halus namun tegas.

Pintu terbuka dan dari balik pintu muncullah sesosok yang sangat muda dan bersih, beliau seperti yang telah kita ketahui adalah Dokter Adi. Dan yang mengejutkan dibelakang Dokter Adi muncul seseorang yang berwajah seperti seorang turis asing, berkulit putih, serta memiliki tinggi yang lumayan. Usianya seperti sudah menginjak 50 tahun seperti Pak Mulyono. Tentu kita sudah mengenal siapa orang ini dan namanya adalah Slincair.

Slincair hadir dengan sangat nyata untuk saat ini dan apabila seorang Ignatius melihatnya maka ia akan sangat terbelalak. Namun kehadiran Slincair menandakan satu hal, bahwa benar Ignatius tidaklah sedang menghayal, perlu beberapa penjelasan yang sangat mendetail kenapa sampai akhirnya Ignatius dapat mengetahui sebagian kecil cerita yang nyata dari kehidupan Slincair, sekalipun masih sangat abu-abu.

Pak Mulyono tersenyum, menyandarkan tubuhnya di kursi dan mempersilakan kedua tamunya untuk duduk, “Silahkan duduk, Dokter Adi dan Tuan Slincair.”

Ketiganya saling berjabat tangan, tanda penghormatan dan penerimaan. Setelah itu suasana menjadi sangat hening dan Pak Mulyono memanggil wakil kepala sekolah untuk menjaga di pintu depan dan ditemani oleh seorang intelejen Inggris yang menyamar dengan sangat rapi. Pertemuan ini memiliki tingkat yang sangat rahasia dan dilindungi secara penuh oleh intelejen Inggris. Karena Slincair memiliki sejarah yang tidak biasa di Indonesia, maka segalanya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Selamat Pagi, Dokter Adi dan Tuan Slincair.” Pak Mulyono membuka percakapan dengan sangat tenang, seolah Ia tidak tahu menahu bahwa beberapa hal yang akan disampaikan oleh kedua tamunya ini kemungkinan akan sangat mengejutkan-nya.

Dokter Adi ikut menjawab tenang dan sedikit tersenyum, “Terimakasih atas waktunya, Pak Mulyono. Tentu Bapak sudah tahu maksud kami datang ke sini, yaitu untuk menjelaskan dengan se-jelas-jelasnya perkara Ignatius.” Sambil menoleh ke arah Slincair, Dokter Adi meminta dukungan pembicaraan.

Namun Slincair masih diam, hanya menatap Pak Mulyono dengan matanya yang teduh.

Pak Mulyono ingin mengatakan sesuatu, namun Ia berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikannya, “Tuan-Tuan, kita tahu bahwa kita sekarang hidup di era modern. Teknologi sudah sangat canggih, dan apapun yang terjadi di sekolah ini pihak luar akan segera mengetahuinya. Tidak ada lagi rahasia.”

Slincair mengangguk, “Yes, sir. We understand.” lalu dilanjutkan dengan percakapan Indonesia, “Pertemuan ini boleh saya katakan sangatlah rahasia, karena saya datang kemari tanpa se-pengetahuan intelejen Indonesia. Diluar ruangan anda saat ini sedang berjaga-jaga seorang intel terbaik yang kami miliki, dan beberapa meter di luar bangunan sekolah juga berjaga dua intel.”

Dokter Adi tidak terkejut, namun Pak Mulyono tampak berubah pucat.

Segera setelah mendengar ucapan Slincair, Dokter Adi berusaha menenangkan kembali suasana, “Yang kami ingin anda pahami, Pak, bahwa Ignatius tidaklah gila, dia hanya sedikit ter-obsesi dan mengalami gangguan psikologis yang masih dapat disembuhkan.”

“Tunggu …..” Pak Mulyono seperti ingin membantah, “Apa yang kalian maksudkan? Kenapa ada intel di sini? Kenapa kemudian Ignatius dinyatakan tidak gila dan hanya mengalami gangguan psikologis rendah? Lalu apa yang dia perbuat sampai melukai tangannya sendiri?”

“Nah …..” Dokter Adi langsung menjawab, “Dia tidak melukai tangannya sendiri. Ia telah dilukai oleh pihak intelejen asing yang datang hendak merampas kembali sebuah buku yang teramat penting yang dimiliki Ignatius.”

“Apa? Sebuah buku? Buku apa? Ini seperti sangat tidak masuk diakal ……”

‘Sir?” Slincair menyela, “Segala hal yang masuk akal dan dianggap masuk akal beberapa diantaranya berasal dari hal yang tidak masuk diakal. Saya tidak akan menjelaskan kenapa kadang polisi merasa aneh dengan beberapa kasus pembunuhan yang tak terungkap. Itu karena terdapat campur tangan intelejen di dalamnya. Saya harus katakan bahwa yang terjadi pada Ignatius murni terdapat campur tangan intelejen.”

Tanpa memberikan kesempatan kepada Pak Mulyono untuk bicara, Dokter Adi segera melanjutkan, “Ignatius tanpa sengaja telah menemukan sejumlah berkas rahasia yang sangat penting, yang akan mengungkapkan sejumlah kejahatan internasional di masa lalu. Berkas ini adalah berkas yang hilang dan dicari-cari oleh banyak pihak, dan Ignatius menemukan berkas ini terkubur di dalam sebuah kotak di sekitar rumah tua di sebuah pantai.”

“Ya, sebuah rumah tua.” Slincair menyambung, “Rumah tua itu memang menyimpan banyak cerita dan terutama karena saya sendiri bersama dengan Gustave yang mengubur berkas tersebut di sana. Ini memang sebuah kesalahan, dan kami tidak pernah menduga seorang Ignatius dapat menemukannya.”

“Jadi sekarang kemana berkas itu?” Kali ini Pak Mulyono diberi kesempatan untuk bertanya.

“Hilang, dan jatuh ke pihak Rusia.” jawab Slincair singkat, “dan intelejen Rusia yang sesungguhnya harus bertanggungjawab atas luka di lengan Ignatius.”

“Berkas itu berupa sebuah buku? Buku apa tepatnya?” Pak Mulyono memasang wajah serius.

“Catatan pribadi saya. Dengar, Ignatius tanpa sengaja menyalin catatan rahasia yang saya tulis ke sebuah jurnal sekolah yang diterbitkan. Dari sanalah pihak intelejen Rusia mengetahui bahwa Ignatius mengetahui sesuatu yang sangat rahasia.” Suasana kian tegang.

Sebelum melanjutkan pembicaraan Pak Mulyono berusaha menggeser posisi duduknya, lalu bertanya, “Jurnal sekolah hanya diterbitkan untuk kalangan sekolah, lalu bagaimana pihak intelejen dapat mengetahuinya diluar sekolah?”

“Pertanyaan bagus.” Slincair telah mempersiapkan informasi ini untuk membuat Pak Mulyono tidak terlalu terkejut kemudian, “Saya curiga di sekolah yang bapak pimpin telah menyusup sejumlah intelejen asing. Ini juga tidak mengherankan, karena anak saya Sammy adalah juga mantan intelejen yang pernah menyusup ke dalam sekolah yang bapak pimpin.”

“Kau bilang Sammy? Anak yang sangat berprestasi itu?” Pak Mulyono berusaha mengingat-ingat.

“Ya, begitulah.”

“Baiklah, ini terdengar sangat gila. Saya terima semua penjelasan yang anda berikan, tapi saya tidak ingin ikut campur dalam masalah ini, biarkan semuanya menjadi urusan kalian para intelejen. Saya akan katakan pada publik bahwa yang terjadi pada Ignatius adalah murni sebuah kecelakaan.”

“Terimakasih, Pak.” Slincair menjawab kesanggupan Pak Mulyono dengan ramah, diikuti oleh Dokter Adi yang merasa sangat tenang dan tidak terkejut sama sekali.

Pertemuan itu pun selesai, dan semua sudah menjadi sangat jelas. Slincair dan Dokter Adi bergegas meninggalkan ruangan setelah itu dengan perubahan yang signifikan, bahwa keadaan ruangan itu tidak lagi nyaman karena Pak Mulyono masih terkejut dengan penjelasan yang Ia dapatkan.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-

-This post also published on anotherday.tk


Related Post : Flashback50 Tahun, Masa-Masa Tua, Kebenaran, Jaman

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

6 thoughts on “Pertemuan Rahasia

  1. mmakin njlimet……..

    Posted by yisha | March 18, 2013, 9:27 am
  2. Kalau awalnya post yang mana ya? Penasaran tapi bingung awalnya darimana ;p

    Posted by mylittlecanvas | March 19, 2013, 11:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: