//
you're reading...
All, Time Machine

Jaman


Jaman

Jaman

Jaman sudah berubah, begitu terlintas hal-hal yang tidak terlalu penting dan kemudian menjadi urusan seseorang. Jaman sudah membuktikan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita terima seiring berkembangnya cara berpikir, yaitu kebenaran. Kebenaran sepertinya hanyalah secuil pembelaan dari para pesakitan yang inginkan keadilan. Begitu tiba saatnya mereka harus berbohong, maka itu semata-mata demi kebaikan.

Ignatius telah sadar dari tidurnya yang panjang, setelah beberapa minggu yang lalu sempat tak sadarkan diri, namun kini Ia berbaring di kamar tidurnya seperti biasa. Ia seperti bermimpi lama sekali, bahkan rasanya tubuhnya telah berada di tempat lain, tanpa Ia harus sadarkan diri. Ingatan yang sangat kuat membuatnya percaya bahwa seharusnya Ia tidak berada di kamar tidurnya dan terbangun seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sekalipun sesungguhnya Ia enggan percaya.

Lemari bukunya tersusun rapi dan tidak ada tanda-tanda dibongkar. Cahaya matahari dari samping jendela telah masuk ke dalam kamar, dan ketika memperhatikan kalender, Ia melihat bahwa banyak sekali hari yang telah dilewatinya. Selama hampir 4 minggu, kemana saja dia? Terdapat sebuah bekas luka ditangannya, yang saat ini dapat menjadi pengingat. Malam itu, malam yang penuh tanda tanya dan misteri, sebab hanya sebuah ingatan yang kabur. Dan Ignatius sungguh tidak dapat mengingatnya.

Sebuah langkah kaki terdengar dari luar kamar, dan dari langkah yang halus tersebut, Ignatius dapat menebak bahwa itu adalah langkah kaki sang Ibu.

“Igna????” panggil sang Ibu dari luar kamar, sambil melangkah dekat menuju pintu dan membukanya.

Tampak bahwa wajah sang Ibu, yaitu Ibu Lidia berseri-seri dan rapi. “Sudah bangun, nak? Tidak ke sekolah?”

Ignatius kebingungan. Apakah pertanyaan itu sangat wajar? Apakah benar tidak pernah terjadi apa-apa? Semuanya tampak normal saja.

Dengan anggukan yang tegas, Ignatius berlalu ke salah satu sudut kamar, memungut handuknya dan berkata, “Eh, iya, sebentar lagi, Ma.”

“Ibu tunggu di bahwa, ya. Lihat jam. Sudah kesiangan!” tegas Ibu Lidia.

Sementara itu dibawah sang Ayah sedang memandang ke halaman rumput yang hijau melalui jendela dapur, sambil dapat merasakan kehadiran sang istri, Pak Steven mengucapkan sesuatu dengan halus, “Apakah ini suatu kesalahan, Lid?”

Ibu Lidia diam sejenak lalu duduk di samping meja makan, “Tidak ada yang salah, Steve. Sekalipun kita telah berbohong, lalu apa artinya sebuah kebenaran bagi Ignatius?”

Pak Steven menoleh ke arah istrinya dan tersenyum, “Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ada sebuah dunia yang sangat heroik dibalik damainya kehidupan kita ini.”

“Kau berbicara tentang mereka? Para intelejen itu?”

“Ya.” jawab Pak Steven dengan gerakan secepat kilat menyambar salah satu kursi di samping meja makan, dan kemudian duduk berhadapan dengan istrinya.

“Jaman sudah berubah, Steve. Kau tahu? Kejayaan mereka telah habis.” Dengan kurangnya minat, Ibu Lidia tampak tidak terlalu merespon antusiasme sang suami.

“Tapi mereka benar-benar nyata.” Kembali Pak Steven membela.

“Sudahlah, Steve.” Ibu Lidia berusaha bersabar, lalu menjawab, “Itu tidak penting dan bukan urusan kita. Pikirkan saja bagaimana nantinya anak kita lulus sekolah dengan baik, kemudian melanjutkan studi di perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan.”

Pak Steven hanya tersenyum dan berucap, “Baiklah.”

Percakapan berakhir, dan setelah Ignatius turun ke lantai bawah dan bergabung dengan Ayah dan Ibunya untuk sarapan, semua telah kembali normal.

Dari udara melintas sebuah pesawat yang mengudara di ketinggian 500 meter di atas permukaan bumi. Pesawat itu secara khusus membawa Slincair bersama rombongannya untuk meninggalkan Indonesia dan pulang ke Inggris.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-


Catatan dari Penulis : “Ini adalah bagian terakhir dari kisah Ignatius yang dituangkan dalam blog ANOTHER DAY. Mulai 30 Maret 2013, akan diterbitkan kisah baru yang berjudul ‘Romance’.”


Related Post : Flashback50 TahunMasa-Masa TuaPertemuan Rahasia, Kebenaran

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

10 thoughts on “Jaman

  1. Mereka telah berbohong apa ya ? 😛

    Posted by Dunia Ely | March 27, 2013, 9:42 am
  2. aa.. ending yang hebat…
    can’t hardly wait the next new title.. 😀

    Posted by araaminoe | March 27, 2013, 10:40 am
  3. kisah baru?
    kaka, apakah semua kisah yang kaka pubish udah selesai sebelum dipublish atau kaka bikin sambil publish?

    Posted by yisha | March 28, 2013, 9:56 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: