//
you're reading...
All, Another World

Terjebak Di Masa Lalu


Terjebak Di Masa Lalu

Terjebak Di Masa Lalu

Malam itu seperti biasa, Latief merapikan mejanya yang berantakan setelah seharian mengerjakan berkas-berkas laporan yang ditimpakan padanya. Pekerjaan seorang analis memang sudah sangat membosankan baginya, terlebih lagi, kali ini dia tidak menemukan sesuatu yang berarti dari sekian banyak informasi yang didapat. Sepertinya analis tidak lagi berada pada kursi terpisah bagi mereka yang bekerja di lapangan. Data-data yang terkumpul tidak pernah cukup.

Ketika mengalami kebosanan seperti ini, sebuah tape tua dari masa-masa kecil-nya dapat diputar untuk mengembalikan ingatan-ingatan yang manis dahulu. Saat-saat itu telah berlalu, dan sambil menikmatinya, dipandangilah sebuah gambaran di dalam bingkai foto kayu itu. Wajah-wajah yang tersenyum dan kebahagian terpancar dari dunia yang terbungkus sebagai sebuah kenangan. Latief menyadarinya, bahwa gambaran itu pun sudah terlalu usang.

Tampak seorang pemuda yang berwajah tampan, anak laki-laki yang sangat berbeda dari kumpulan itu. Namanya adalah Sammy, sahabatnya. Dan disamping kiri dan kanannya berjejer sahabat-sahabat lama lainnya, yaitu Pak Kumoro, Ernie, Le Van dan Kurt. Sudah usang, sudah berlalu. Saat ini yang tersisa dari persahabatan tersebut hanyalah kisah-kisah lama, yang apabila diungkit tidak akan memberikan jawaban apapun.

Sulit dipercaya bahwa sahabat-sahabat kita datang dalam kehidupan yang penuh warna, kemudian pergi dalam kehidupan yang abu-abu. Seperti bermimpi indah dalam semalam dan dibangunkan keesokan harinya, kesepian. Latief adalah satu dari sekian banyak orang yang terjebak di masa lalu, dan berharap bahwa salah satu sahabat terbaiknya dapat membawanya pergi jauh dari ingatan yang mencekik hatinya.

Kematian Pak Kumoro beberapa saat yang lalu, memberikan sebuah kesempatan bagi dirinya untuk menjumpai sahabatnya yang telah lama pergi dari dunia yang asing ini. Sammy begitu sapaan akrabnya selalu, namun sesungguhnya dia bukan lagi Sammy. Sammy yang telah dikenalnya semasa kecil telah mati, digantikan oleh keberadaan kembaran-nya yang bernama Salvatore atas rekayasa genetik. Salvatore menyandang nama Sammy, dan tak lama berselang nasib produk rekayasa genetik itu pun tidak terlalu baik. Ia mati dengan cara yang sama, yaitu mengorbankan diri untuk menyelamatkan seseorang. Setelah kematian Salvatore dibentuk lagi keberadaan manusia lainnya yang memiliki ingatan dua kehidupan tersebut, yaitu Sammy dan Salvatore. Namanya adalah SamSal, lebih suka dipanggil Sammy.

Kehidupan terus berjalan setelah itu. Setelah SamSal berhenti dari dunia intelejen pada usianya yang ke 23 tahun, maka sejak saat itu pula, keberadaan garis keturunan SamSal mulai terungkap. Atasan-nya yang lama berbohong, bahwa Sammy adalah seorang anak yatim-piatu yang dibuang oleh kedua orang tuanya, namun sebenarnya tidak demikian. Apa yang terjadi setelahnya adalah urusan dari SamSal, dan Latief secara pasti tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi pada sahabat lamanya itu. Karena mungkin mereka tidak lagi sedekat dahulu.

Pada hari pemakaman Pak Kumoro, Latief bersama dengan Ernie berhasil menemui SamSal dan berbicara banyak. Sempat bernostalgia di sebuah taman di belakang distrik menghadap sungai, mereka bercerita banyak. Yang paling antusias tentu adalah Ernie. Ernie yang selama ini selalu dipandang lemah, saat ini sudah dapat bekerja secara profesional dan menangani sejumlah kasus besar penyelundupan senjata api di perbatasan Indonesia, Singapura. Ia menyamar sebagai seorang notaris bos besar gangster yang inginkan pengadaan senjata. Pekerjaan yang hebat.

Namun pertemuan itu tidaklah cukup, dan bagi Latief, Ia perlu berbicara dua mata dengan SamSal. Maka sebuah telepon di malam yang sunyi tersebut mungkin sangat rasional. Terhubung secara rahasia ke nomor SamSal, saat itu juga sebuah kecerobohan telah dilakukan.

“Halo????” SamSal berbicara dari balik telepon.

“Halo, Sam. Ini Latief. Apa kabar, Sam?” Latief tampak tenang saja, namun seketika itu juga SamSal sangat marah.

“What’re you doing, Tief! Don’t call me anymore.” Dengan pencampuran bahasa, SamSal membentak Latief, “Aku sudah keluar dari dunia intelejen dan sangat berharap kau tidak menelepon aku lagi. Please.”

Wajah Latief mendadak berubah, bukan sambutan yang baik, “Sam, aku ingin bertemu denganmu, akhir pekan ini. Aku ingin bicarakan sesuatu.”

“What to talk? I see nothing, Tief.” Lagi, tanggapan SamSal sangat kurang baik, “We have different world already and I’m not truly Sammy again. Sammy have been dead, understand?”

Perkataan itu, perkataan yang sebaiknya tidak didengar oleh telinganya sendiri, namun Latief berusaha menjaga nada bicaranya dan tidak terbawa emosi, “Baiklah. Aku tidak akan menelponmu lagi setelah ini. Tapi tolong, aku ingin bicara pada akhir pekan ini.”

SamSal diam sejenak, seperti sedang berpikir, lalu kemudian menyanggupi permintaan tersebut, “Allright, Satursday Night at 6 pm. Don’t be late! You know where should meet me!”

Klik!

Telepon diputus. Sungguh malam yang menggelisahkan terutama bagi Latief. Ia ingin menangis. Ia sungguh ingin menangis.


POST ILLUSTRATION CREDIT

-If you enjoyed this post, please share it-


Related Post : Sammy, Salvatore dan SamSal, Perbatasan, Gudang Karet, Cinta Bersyarat, Berlalu Begitu Cepat, Jilatan Api, Penjara

Advertisements

About Denny Leo

My mind just exploding and I'd like to write a story in a thousand years ......

Discussion

17 thoughts on “Terjebak Di Masa Lalu

  1. plot yang bagus, serasa melihat pilmnya..

    Posted by araaminoe | March 30, 2013, 12:54 pm
  2. aduh Mas Den, saya kok susah ngikutin ya…

    Posted by danirachmat | March 30, 2013, 4:12 pm
  3. Ternyata masa lalu itu ada jebakannya ya…

    Posted by Ben Nymous | March 30, 2013, 5:11 pm
  4. bakal pening……….

    Posted by yisha | March 31, 2013, 5:21 pm
  5. knp Latief berharap bahwa salah satu sahabat terbaiknya dapat membawanya pergi jauh dari ingatan yang mencekik hatinya, knp nggak dia sendiri yg melakukannya ? 🙄

    Posted by duniaely | March 31, 2013, 9:31 pm
    • pertanyaan bagus, kenapa Latief berharap demikian? kenapa tidak dia sendiri yang melakukannya? mungkin jawaban Latief adalah jawaban saya sendiri, tetapi setiap karakter dari cerita ini berdiri sendiri, tanpa terpengaruh kepribadian saya. Latief adalah gambaran dari seorang manusia yang tidak dapat merelakan segala sesuatu, termasuk kenangan manis yang sudah berakhir.

      Posted by Denny Leo | March 31, 2013, 10:00 pm
  6. Ah, saya bukan pecinta fiksi, jadi suka bingung sendiri dan nggak bisa berimajinasi sesuai dengan yang diharap penulisnya bisa ditangkap pembacanya..

    Posted by Isnuansa | March 31, 2013, 11:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Posts

Top Posts & Pages

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: